BEKASI, KOMPAS.com – Lulus dari sekolah menengah atas favorit tidak selalu menjamin kemudahan mendapatkan pekerjaan.
Ketatnya persaingan dan tuntutan pengalaman kerja membuat banyak lulusan baru harus mencari jalur alternatif untuk meningkatkan keterampilan, termasuk melalui pelatihan vokasi.
Kondisi itu dialami Farras Armadana (21), lulusan jurusan IPS dari SMA Negeri 1 Kota Bekasi, yang berjuang menembus dunia kerja sejak lulus pada 2023. Berbagai lamaran telah ia kirimkan ke sejumlah perusahaan di wilayah Jabodetabek, namun belum membuahkan hasil.
Baca juga: Usai Didemo, Lurah Teluk Pucung Bekasi Cabut Larangan Pakai Halaman Kelurahan untuk Hajatan
“Saya sangat kesulitan mencari kerja, apalagi saya background-nya lulusan dari jurusan IPS,” ujar Farras kepada Kompas.com saat ditemui di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Kota Bekasi, Kamis (9/4/2026).
Menurut Farras, salah satu tantangan terbesar bagi lulusan baru adalah persyaratan yang ditetapkan perusahaan, seperti batasan usia dan pengalaman kerja. Kondisi tersebut membuat banyak fresh graduate kesulitan memasuki dunia kerja.
“Karena yang kita tahu, Indonesia itu kesulitannya dari usia, lalu harus mempunyai pengalaman kerja minimal setahun atau dua tahun. Jadi yang fresh graduate juga kesusahan, apalagi kadang diminta yang sudah memiliki pengalaman,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa perusahaan cenderung mencari kandidat yang siap kerja dan memiliki berbagai keterampilan.
“Perusahaan juga maunya cari yang cepat. Mereka pilih kandidat yang serba bisa, istilahnya yang mempunyai skill,” katanya.
Menyadari pentingnya keterampilan di dunia kerja, Farras kemudian mengikuti pelatihan vokasional yang diselenggarakan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia di BBPVP Kota Bekasi.
Ia memilih bidang welding (pengelasan) karena melihat peluang kerja yang menjanjikan di sektor teknik.
Baca juga: Warga Demo Tolak Larangan Hajatan di Kantor Kelurahan Teluk Pucung Bekasi
Farras memilih bekerja di luar bidang studinya karena menilai sektor teknik memiliki prospek lebih stabil dan sulit tergantikan oleh perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).
“Menurut saya pekerjaan ini tidak bisa digantikan oleh AI. Dan juga cukup keren untuk digeluti,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut berlangsung selama 42 hari atau setara dengan 420 jam pelajaran, dengan durasi sekitar 10 jam pelajaran setiap harinya. Farras optimistis keterampilan yang diperoleh akan mempercepat peluangnya mendapatkan pekerjaan.
“Biasanya jarak setelah mengikuti pelatihan sampai akhirnya mendapat kerja sekitar satu bulan,” ungkapnya.
Keinginan untuk mandiri secara finansial menjadi motivasi utama Farras. Ia tidak ingin terus bergantung pada orang tua dan bertekad membangun masa depannya sendiri.




