Bisnis Gudang Logistik Moncer, Okupansi Tembus 95,8% Kuartal I/2026

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Sektor properti logistik mencatatkan performa paling agresif dibandingkan subsektor properti lainnya pada awal tahun ini. Pasok yang terbatas di tengah lonjakan permintaan dari industri e-commerce dan logistik pihak ketiga (3PL) mengerek tingkat hunian ke level tinggi.

Berdasarkan data Colliers Indonesia, rata-rata okupansi gudang logistik di Jabodetabek kini telah menembus angka 95,8% pada kuartal I/2026. Kondisi ini membuat ruang kosong di pasar semakin langka, terutama pada koridor-koridor industri utama yang menjadi incaran investor.

"Gudang hampir penuh, tingkat hunian rata-rata menembus 95,8%. Kemudian pasoknya terbatas, sedangkan permintaan terus naik," kata Ferry dalam Konferensi Pers dikutip Kamis (9/4/2026).

Dalam rinciannya, okupansi koridor Selatan telah menembus angka 96% pada Kuartal I/2026. Sementara itu, Koridor Barat mencatatkan okupansi 98% dan Koridor Utara berada di level lebih dari 90%.

"Nah dari tingkat hunian disini data menunjukkan bahwa tingkat hunian di koridor Timur Jakarta seperti Bekasi hingga Karawang itu naik dari 95% di tahun 2019 dan hampir menyentuh 100% di tahun 2026," ujarnya.

Dari sisi potensi pasokan baru, koridor Timur Jakarta yang masih menjadi area paling dominan dengan total pasokan baru mencapai 644.261 m2 pada 2029. Sementara itu, sepanjang tahun ini area gudang logistik di koridor Timur Jakarta telah mencapai 2,2 juta m2.

Sementara itu, wilayah lain seperti koridor Selatan Jakarta mencakup Cibinong hingga Bogor diproyeksi akan mendapat tambahan suplai 80.000 meter persegi, disusul koridor Barat Jakarta sebesar 22.000 meter persegi hingga 2029.

"Seiring dengan keterbatasan pasok, harga sewa juga relatif stabil dengan pertumbuhan yang konsisten sekitar 2% pertahunnya. Jadi kalau kita lihat, secara wilayah Timur Jakarta itu memang yang paling dominan. Artinya Bekasi dan Karawang itu makin padat," imbuhnya.

Pendorong utama masifnya penyerapan ini adalah pertumbuhan nilai transaksi e-commerce yang diproyeksi terus menanjak dari US$56,8 miliar pada 2025 menjadi US$76,6 miliar pada 2029. 

Selain itu, munculnya sektor baru seperti kendaraan listrik (EV) dan energi terbarukan turut memperkuat fondasi pasar logistik jangka panjang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Namanya Dicatut di Akun Facebook, Dewi Perssik Curiga Ulah Orang Terdekat: Aku Sudah Biasa Dikhianati
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Saat Resmikan Pabrik Perakitan Kendaraan Listrik, Prabowo: 2-3 Tahun Lagi Tak Impor BBM
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Tanpa Dana APBN dan APBD, Proyek Pelabuhan Tanjung Carat Pakai Creative Financing
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Strategi Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga jadi Andalan, Kemkomdigi Tuntaskan 91,48 Persen Tindak Lanjut Rekomendasi BPK
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Dortmund Buka Peluang Reuni dengan Jadon Sancho
• 9 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.