JAKARTA, KOMPAS — Pengembangan sejumlah pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan di Indonesia semakin matang. Di tengah dorongan transisi energi dan isu ketahanan pasokan nasional, teknologi hidro menjadi salah satu yang paling matang dari sisi pengadaan, implementasi, hingga keandalan operasional.
Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), misalnya, terus mempercepat pertumbuhan produksi listrik dan percepatan pengembangan sejumlah proyek pembangkit tenaga air.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (8/4/2026), perusahaan yang tercatat di bursa itu mengumumkan keberlanjutan Proyek Pongbembe di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, berkapasitas 20 megawatt (MW). Ini menjadi proyek pembangkit keenam sekaligus terbesar milik perusahaan.
Proyek yang diperkirakan akan menghasilkan listrik sekitar 97.218 megawatt-jam (MWh) per tahun tersebut telah mengantongi perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan PT PLN (Persero). Perjanjian berlaku selama 30 tahun sejak mulai beroperasi pada 2030.
Direktur Utama ARKO Aldo Artoko mengatakan, bertambahnya portofolio proyek akan memperkuat kontribusi perusahaan terhadap sistem kelistrikan berbasis energi bersih di Indonesia.
“Dengan semakin banyak proyek pembangkit yang diselesaikan, kami yakin akan mampu menjaga komitmen untuk menerangi Indonesia berbasiskan energi bersih serta menjalankan bisnis secara berkelanjutan,” ujar Aldo dalam keterangan resmi, yang dikutip Kamis (9/4/2026).
ARKO saat ini mengelola PLTA dengan kapasitas terpasang total 62,8 MW dan memiliki pipeline proyek lebih dari 300 MW. Salah satu proyek terbaru yang telah memasuki tahap operasi komersial adalah Kukusan 2 berkapasitas 5,4 MW di Tanggamus, Lampung. PLTA ini mulai beroperasi pada Februari 2026.
Pembangunan proyek lain yang masih berjalan antara lain PLTA Tomoni berkapasitas 10 MW di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Hingga akhir 2025, progres konstruksi proyek itu telah mencapai 58,8 persen, meningkat dari 15,5 persen pada 2024.
Sepanjang 2025, ARKO mencatatkan pendapatan usaha Rp 343,3 miliar, naik 43,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba bersih juga meningkat 52,9 persen secara tahunan menjadi Rp 63,9 miliar. Dari sisi operasional, perusahaan membukukan produksi listrik 151,8 gigawatt-jam (GWh) atau tumbuh 56,1 persen secara tahunan.
Pertumbuhan itu terutama ditopang oleh mulai beroperasinya proyek Yaentu di Poso, Sulawesi Tengah, serta kondisi hidrologi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan produksi ARKO turut mendorong perbaikan profitabilitas, dengan margin laba bersih meningkat menjadi 18,6 persen.
Komisaris Utama ARKO Arya Pradana Setiadharma, menambahkan, capaian tersebut menunjukkan bahwa bisnis pembangkit berbasis air mulai memberikan skala ekonomi yang lebih solid. Ini terutama ketika proyek-proyek baru masuk tahap operasi komersial.
Selain berdampak pada keuntungan perusahaan, operasional proyek PLTA juga mengurangi emisi gas rumah kaca. Sejak 2017-2025, operasional perusahaan telah menghasilkan reduksi emisi sekitar 277.241 ton CO₂ ekuivalen. Tambahan proyek Tomoni dan Pongbembe diperkirakan bakal menyumbang tambahan reduksi emisi sekitar 181.503 ton CO₂ ekuivalen per tahun.
Secara terpisah, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dalam siaran resmi, Selasa (7/4), menilai bahwa PLTA merupakan salah satu teknologi energi baru dan terbarukan (EBT) yang paling matang di Indonesia dari segi pengadaan maupun implementasi.
"PLTA memiliki keunggulan dalam kapasitas besar, tarif yang relatif kompetitif, serta tingkat keandalan yang tinggi dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya," kata mereka.
Posisi PLTA menjadi semakin relevan di tengah dinamika geopolitik global yang mendorong banyak negara meninjau ulang strategi ketahanan energinya. Ketidakpastian pasokan energi internasional kini telah memperkuat urgensi kemandirian energi nasional.
"Situasi ini menjadi pengingat nyata akan pentingnya mempercepat transisi energi," kata mereka.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, dikutip dari Kontan, menilai, pengembangan dan operasional pembangkit EBT oleh berbagai perusahaan swasta kini semakin menggeliat.
Sebagai contoh, emiten pengembangan pembangkit listrik panas bumi atau geotermal, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit mereka mampu melampaui 1 GW pada 2026. Target ini akan memperkuat posisi BREN sebagai salah satu perusahaan energi terbarukan terkemuka di Indonesia.
Perseroan tersebut menargetkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu Unit 3 dan Salak Unit 7 dengan kapasitas masing-masing 30 megawatt (MW) dan 40 MW beroperasi pada triwulan IV-2026. Operasional ini diharapkan langsung mendorong pendapatan perseroan.
Sepanjang 2025, BREN telah mencetak kenaikan pendapatan 1,4 persen menjadi 605 juta dolar AS. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh produksi listrik panas bumi yang stabil serta kontribusi dari Pembangkit Unit Binary Salak. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk BREN juga tumbuh 8,3 persen secara tahunan menjadi 132 juta dolar AS.
Pemain geotermal besar lainnya, yaitu PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), juga optimistis dapat mengejar target kapasitas terpasang hingga 1 GW yang dikelola sendiri dalam 2-3 tahun mendatang. Sejauh ini, kapasitas terpasang perseroan tersebut mencapai 727 MW.
Pada 2026, PGEO menargetkan mencetak rekor produksi listrik hingga 5.255 GWh atau tumbuh sekitar 3,14 persen secara tahunan. Target itu dikejar dengan menggenjot produksi Proyek Kamojang yang diproyeksikan mencapai 1.806 GWh, Ulubelu 1.617 GWh, Lahendong 849 GWh, Lumut Balai 714 GWh, serta Karaha sebesar 109 GWh.
Secara kinerja keuangan, sepanjang 2025, PGEO mengalami penurunan laba bersih 14,2 persen menjadi 137,69 juta dolar AS. Namun, pendapatan mereka meningkat 6,29 persen menjadi 432,72 juta dolar AS.
Emiten lain seperti PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) juga terus mengembangkan beragam proyek EBT. Pada 2026, perseroan tengah mengembangkan PLTMH (berbasis mikrohidro) Ordi Hulu di Sumatera Utara dan PLTS (berbasis surya) Tempilang di Bangka Belitung, serta membuka peluang ekspansi ke wilayah lain di Sumatera dan Sulawesi.
Saat ini, KEEN telah mengoperasikan sejumlah proyek energi baru terbarukan, yakni PLTA Pakkat di Sumatera Utara, PLTA Air Putih di Bengkulu, PLTM (berbasis minihidro) Ma’dong di Toraja Utara, serta PLTBm (berbasis biomassa) Tempilang di Kepulauan Bangka Belitung.
KEEN juga memiliki portofolio proyek EBT yang didukung perjanjian PPA dengan PT PLN (Persero). Terdapat empat PPA dengan total kapasitas 54 MW, yang dijalankan melalui PT Energi Sakti Sentosa (18 MW), PT Bangun Tirta Lestari (21 MW), PT Nagata Dinamika Hidro Madong (10 MW), dan PT Biomassa Energi Jaya (5 MW).
Secara keuangan, sepanjang 2025, perseroan memang mencatat penurunan pendapatan 9,35 persen secara tahunan menjadi 34,33 juta dolar AS pada 2025. Namun, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru naik 24,56 persen menjadi 7,76 juta dolar AS.
Abida menilai, emiten EBT terus mendapat sentimen positif yang bersifat eksternal. Di antaranya adalah dorongan investasi dari BPI Danantara untuk proyek EBT strategis, tren dekabornisasi global, hingga potensi pemangkasan suku bunga acuan yang dapat menurunkan biaya pendanaan.
Meski demikian, beberapa risiko bisa membebani pengembangan proyek EBT. Risiko tersebut antara lain tren pelemahan kurs rupiah jika komponen modal atau capital expenditure (capex) emiten dihargai dolar AS.





