Profesi perawat merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan yang bekerja 24 jam tanpa henti. Berbeda dengan profesi lainnya yang memiliki jam kerja tetap dan hari libur, perawat menjalankan sistem shift agar pelayanan kepada pasien tetap berjalan setiap saat, termasuk pada hari libur (Sabtu dan Minggu) serta hari libur nasional. Kondisi ini membuat perawat harus tetap menjaga kesehatan secara menyeluruh (fisik dan mental).
Menurut Nathan Lee. (2026), Perawat adalah tenaga kesehatan yang memainkan peran penting dalam memantau kondisi pasien secara terus-menerus. Oleh karena itu, sistem kerja shift telah menjadi suatu keharusan yang tak terhindarkan. Perawat memiliki pola jadwal sebagai berikut:
1. Shift Pagi: 07.00-15.00
2. Shift Sore: 15.00-23.00
3. Shift Malam: 23.00-07.00
Namun, pada shift malam umunya 8-12 jam dan bisa lebih lama tergantung kebijakan rumah sakit.
Meskipun diperlukan, menurut Satriani, dkk. (2021), Pekerja yang bekerja secara bergiliran mungkin mengalami masalah kesehatan dan sosial, yang dapat memicu stres terkait pekerjaan. Bekerja pada shift malam cenderung lebih sering menyebabkan stres sedang dibandingkan dengan shift pagi. Perubahan pola kerja ini dapat memengaruhi kondisi biologis, psikologis, dan sosial para perawat. Masalah ini terjadi karena rutinitas harian para pekerja terganggu. Mereka harus bekerja secara bergiliran, yang mengacaukan pola makan, tidur, dan kerja mereka, sehingga menimbulkan masalah biologis.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Satriani, dkk. (2021), bahwa stres kerja paling banyak dialami oleh perawat yang bekerja pada shift malam. Kondisi ini terlihat dari kualitas tidur informan yang terganggu serta adanya gangguan kesehatan, yang juga dipengaruhi oleh banyaknya keluhan pasien.
Risiko Gangguan Kesehatan FisikSejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat berdampak pada sistem kardiovaskular atau sistem peredaran darah, metabolisme tubuh, gangguan tidur kronis, dan sebagainya (Shah, dkk. 2025).
Selain itu, International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan kerja shift malam sebagai kemungkinan karsinogenik (Group 2A), karena berkaitan dengan gangguan ritme biologis tubuh.
Hal ini menunjukkan bahwa dampak shift malam tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang.
Risiko Gangguan Kesehatan MentalTidak hanya gangguan pada kesehatan fisik, namun juga terdapat gangguan pada kesehatan mental perawat. Perawat selalu bertemu dengan pasien yang kasusnya berbeda-beda, terus melakukan pemantauan, dan menghadapi pasien dengan berbagai macam perilaku, perawat juga selalu mengusahakan yang terbaik untuk pasiennya. Walaupun tampak lelah, ia selalu berusaha untuk tetap tersenyum.
Perawat kerap menghadapi tekanan emosional berat yang berasal dari situasi klinis dan interaksi dengan keluarga pasien. Sumber stres utama meliputi:
1. Pasien yang meninggal secara mendadak
2. Kemarahan atau keluarga menyalahkan perawat karena kondisi keluarga
3. Trauma berulang
Kondisi ini yang membuat perawat berujung pada kelelahan emosional serta burnout (Lee, Nathan. 2026).
Penelitian yang dilakukan oleh Aslan, dkk. (2021), menjelaskan bahwa kerja shift malam dapat menyebabkan masalah psikologis dan fisiologis pada perawat, serta berkaitan dengan peningkatan stres, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup.
Kondisi ini dapat berisiko pada kesejahteraan perawat dan kualitas pelayanan kesehatan.
Pentingnya Perhatian terhadap Kesehatan PerawatMelihat banyak resiko yang ditanggung perawat, institusi kesehatan harus memberikan perhatian lebih terhadap tenaga kesehatan khususnya perawat, seperti pengaturan jadwal kerja yang sehat, waktu istirahat cukup, dan dukungan kesehatan mental.
Perawat menjadi garda terdepan dalam dunia kesehatan. Tanpa mereka kualitas pelayanan kesehatan secara signifikan kurang membaik secara keseluruhan.





