JAKARTA, KOMPAS.TV – Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali diuji setelah Israel tetap melancarkan serangan ke Lebanon.
Namun, langkah tersebut dinilai bukan kejutan, melainkan bagian dari strategi yang sejak awal sudah diprediksi dan berpotensi mengganggu proses perdamaian.
Pakar intelijen dari CIDE, Anton Ali Abbas menilai tindakan Israel memang sudah diperkirakan, terutama karena negara tersebut tidak dilibatkan secara langsung dalam proses negosiasi.
Baca Juga: 254 Orang di Lebanon Tewas Akibat Serangan Israel, Petugas Cari Korban di Reruntuhan Rumah
“Dia bilang ini ketika ketidakerlibatan Israel dalam rencana proses perdamaian ini, ini bisa apa namanya bisa mengkhawatirkan. Kenapa? Karena Israel kemudian bisa mengganggu proses perdamaian,” ujarnya dalam dialog Kompas Petang, Kamis (9/4/2026).
Anton menjelaskan, kekhawatiran ini sebelumnya juga telah disampaikan oleh mantan pejabat kontra-terorisme Amerika Serikat.
Ketidakterlibatan Israel membuka ruang bagi negara itu untuk tetap menjalankan agendanya di tengah kesepakatan gencatan senjata.
Akibatnya, kesepakatan yang hanya melibatkan dua pihak menjadi rentan terhadap gangguan dari aktor lain di kawasan.
Menurut Anton, Israel secara sengaja memisahkan konflik yang dihadapi menjadi dua medan berbeda.
Di satu sisi, konflik dengan Iran bisa dihentikan melalui gencatan senjata.
Namun di sisi lain, perang melawan kelompok Hezbollah di Lebanon tetap berjalan.
“Jadi bagi Israel, Israel mencoba memisahkan bahwa perang mereka dengan Hizbullah itu adalah tidak sama. Tidak serta merta sama dengan antara perang mereka dengan Iran,” katanya.
Baca Juga: Lebanon Dibombardir Israel Usai Gencatan Senjata AS-Iran, Kota Beirut Kebakaran Besar
Strategi ini memungkinkan Israel tetap mempertahankan operasi militernya meski ada kesepakatan di front lain.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- Israel Lebanon konflik terbaru
- gencatan senjata Iran AS analisis
- strategi Israel Hizbullah
- buffer zone Lebanon Selatan
- konflik Timur Tengah 2026
- perang Israel Hizbullah update





