Gundhul-gundhul pacul cul gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
UNTUK mengawali tulisan ini, saya sengaja memilih tembang dolanan (permainan) anak-anak (Jawa) berjudul “Gundhul-Gundhul Pacul”. Tembang kuna yang kini tak pernah lagi kita dengar. Sinyal pelajaran yang terkandung di dalamnya juga sirna.
Saya perlu merujuknya di tengah hiruk-pikuk perpolitikan Indonesia belakangan ini. Banyak kalangan mencemaskan masa depan Indonesia.
Korupsi dan bentuk lain perampokan kekayaan negara semakin brutal. Ruang publik yang dulu lapang bagi gagasan dan perdebatan kini mengerut dihimpit urusan personal.
Penguasa ogah mendengar suara publik, antikritik. Anak-anak muda berteriak “Indonesia Gelap”, penguasa menghardiknya.
Terbaru, aktivis KontraS Andrie Yunus disiram air keras oleh sejumlah anggota militer, yang membuat jiwa dan kesehatan fisiknya terancam. Tentu masih banyak hal mencemaskan yang bisa ditunjuk.
Tembang dolanan tentu tak akan mengubah kekeadaan. Namun, saya membaca pelajaran sederhana, tapi sangat mendalam dan relevan terkait kepemimpinan dan etika kekuasaan.
Tak ada yang salah dan hina, menurut saya, bila dunia dewasa belajar dari dunia anak. Meski tembang dolanan itu kini tinggal kenangan.
Hal ini diingatkan Johan Huizinga dalam buku yang berjudul Homo Ludens. Ahli sejarah dan kebudayaan berkebangsaan Belanda itu mendalilkan bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk bermain. Kata Huizinga, bermain adalah hal utama untuk menghasilkan kebudayaan.
Tembang “Gundhul-Gundhul Pacul” sangat sederhana, lucu (berdimensi ludens), khas dunia anak-anak. Namun, berisi nasihat yang bisa ditarik sebagai pelajaran moral bagi dunia dewasa tentang kekuasaan dan kepemimpinan.
“Gundhul-Gundhul Pacul” bercerita tentang seorang anak gundul, plontos, lucu, berjalan sambil membawa bakul di atas kepala.
Baca juga: Menakar Ketegasan Peradilan Militer: Antara Skeptisisme dan Realitas Hukum
Ia “gembelengan”—congkak, tolah-toleh, tidak fokus, cengengesan, sembrono, terlalu percaya diri. Lalu, bakul itu terguling. Nasi yang ada di dalamnya tumpah-ruah.
Sederhana sekali, tapi sangat edukatif. Dinyanyikan dengan ekspresi gembira ria, di situlah kekuatan tembang dolanan.
Ia bekerja di ranah bermain. Anak-anak belajar tentang batas, tanggung jawab, dan konsekuensi tanpa merasa sedang diajari.
Etika hadir bukan sebagai perintah, melainkan pengalaman yang dirasakan. Anak tidak diminta memahami konsep abstrak tentang tanggung jawab.
Ia cukup melihat bahwa sikap “gembelengan” punya konsekuensi. Bakul yang berisi nasi terguling dan isinya semburat memenuhi halaman.
Nasihat tersebut bersifat fundamental. Ia menyentuh inti dari satu prinsip dunia dewasa, terutama di ranah kekuasaan dan kepemimpinan.
Masyakarat kita merumuskannya secara tegas (bahasa Jawa): “ojo dumeh” (jangan mentang-mentang) berkuasa.
Bila “gembelengan” dipandang bentuk awal dari kecerobohan anak, maka “dumeh” (mentang-mentang) adalah bentuk dewasanya.
Ia bukan lagi kecerobohan ala anak yang tanpa pamrih, melainkan “merasa” (kesadaran yang berpamrih): merasa berhak, merasa boleh, merasa kebal dari hukuman dan konsekuensi.





