Oleh: Dr. Amirullah, M.Pd
Dosen FISH UNM
Warna bukan sekadar identitas visual. Ia adalah simbol, energi, dan nilai yang hidup dalam denyut sebuah institusi.
Di Universitas Negeri Makassar, warna orange bukan hanya cat di dinding kampus atau atribut seragam mahasiswa. Ia adalah semangat semangat perubahan, keberanian berpikir, dan tekad untuk terus bergerak maju.
Namun pertanyaannya hari ini apakah orange itu masih hidup, atau sekadar menjadi simbol yang perlahan memudar?
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kampus bukan lagi sekadar ruang belajar. Ia adalah arena pertarungan gagasan, inovasi, dan integritas. Kapal besar bernama Pinisi menjadi metafora yang tepat bagi UNM kokoh, berlayar jauh, tetapi tetap membutuhkan arah, nakhoda, dan awak yang setia pada tujuan.
Menjaga “orange UNM di Pinisi” berarti menjaga arah pelayaran itu dengan menyodorkan solusi nyata Pertama, menjaga integritas akademik. Tidak ada arti kebanggaan almamater jika di dalamnya praktik-praktik instan lebih dihargai daripada proses ilmiah.
Mahasiswa dan dosen harus kembali meneguhkan nilai kejujuran, kerja keras, dan kedalaman berpikir. Orange bukan warna yang pasif ia adalah warna yang menyala, yang menuntut keberanian untuk berbeda dan benar.
Kedua, menjaga budaya kritis dan inovatif. UNM tidak boleh terjebak dalam rutinitas administratif yang kering. Kampus harus menjadi ruang dialektika. Mahasiswa harus berani bertanya, menggugat, dan menawarkan solusi. Dosen harus menjadi inspirator, bukan sekadar penyampai materi. Tanpa itu, orange akan kehilangan makna progresifnya.
Ketiga, menjaga keberpihakan pada masyarakat. Sebagai institusi pendidikan, UNM tidak boleh terlepas dari realitas sosial. Penelitian dan pengabdian harus menyentuh persoalan nyata pada pendidikan, ekonomi lokal, hingga ketimpangan sosial. Pinisi tidak berlayar tanpa tujuan ia selalu menuju pelabuhan yang memberi manfaat.
Keempat, menjaga solidaritas dan identitas kolektif. Kampus bukan hanya tempat individu mengejar gelar, tetapi ruang membangun jejaring dan karakter. Ketika rasa memiliki memudar, maka warna orange hanya akan menjadi atribut kosong.
Kelima, penguatan riset dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. Kampus tidak boleh terjebak pada penelitian yang hanya berorientasi pada laporan.
Penelitian harus menjawab persoalan riil masyarakat. UNM perlu mendorong riset terapan yang berkontribusi pada pembangunan daerah, seperti pengembangan media pembelajaran inovatif, digitalisasi pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi lokal. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, industri, dan komunitas harus diperluas agar hasil penelitian memiliki dampak nyata.
Keenam, transformasi digital sebagai keniscayaan. Era digital menuntut perubahan dalam sistem pembelajaran, manajemen kampus, dan layanan akademik. UNM harus memperkuat infrastruktur digital, mengembangkan platform pembelajaran daring yang interaktif, serta meningkatkan kompetensi digital dosen dan mahasiswa. Namun transformasi ini tidak boleh menghilangkan nilai humanis pendidikan. Teknologi harus menjadi alat, bukan tujuan.
Ketujuh, membangun ekosistem kolaboratif. Tidak ada kampus yang dapat maju sendiri. UNM perlu memperkuat jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi lain, baik nasional maupun internasional, serta dengan dunia industri dan masyarakat. Kolaborasi ini penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas peluang mahasiswa, dan memperkuat posisi UNM dalam peta pendidikan tinggi.
Kedelapan, menjaga identitas lokal di tengah globalisasi. Sebagai kampus yang lahir dan berkembang di Sulawesi Selatan, UNM memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan kearifan lokal. Nilai-nilai budaya Bugis Makassar seperti siri’, pacce, dan gotong royong harus menjadi bagian dari karakter pendidikan. Dalam hal ini, Pinisi bukan hanya simbol, tetapi juga filosofi hidup tentang kerja keras, keberanian, dan kebersamaan.
Tantangan UNM ke depan tidak ringan, globalisasi, digitalisasi, dan kompetisi antar perguruan tinggi menuntut terus bertransformasi. Namun dalam perubahan itu, nilai dasar tidak boleh hilang. Justru di situlah kekuatan sesungguhnya. Menjaga “orange UNM di Pinisi” bukan tugas segelintir orang. Ia adalah tanggung jawab bersama mahasiswa, dosen, alumni, dan seluruh civitas akademika. Karena jika warna itu padam, maka bukan hanya identitas yang hilang, tetapi juga arah perjalanan.
Dan pada akhirnya, pertanyaan itu kembali kepada kita, Apakah kita sekadar penumpang di atas Pinisi, atau benar-benar awak yang menjaga layar tetap terkembang? (*)





