Pantau - Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik keras serangan Israel terhadap Lebanon yang dinilai berpotensi menggagalkan proses perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Merz di Berlin saat membahas perkembangan situasi internasional yang memanas.
Ia mengungkapkan, "Kami memantau dengan sangat prihatin situasi di Lebanon selatan. Kebrutalan cara Israel melancarkan perang di sana dapat menggagalkan seluruh proses perdamaian. Ini tidak boleh dibiarkan terjadi,"
Merz bersama sejumlah pemimpin negara lain juga telah menyerukan kepada pemerintah Israel untuk segera menghentikan serangan.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul tercatat telah dua kali membahas isu tersebut dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar.
Merz menegaskan bahwa komunikasi intensif juga dilakukan secara langsung dengan pimpinan Israel.
Ia menyatakan, "Saya juga menjalin komunikasi pribadi dengan Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu. Seperti dalam beberapa pekan terakhir, kami terus berkoordinasi secara erat dan berkelanjutan dengan para mitra kami di Eropa dan kawasan,"
Upaya diplomatik tersebut dilakukan untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat di kawasan.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran.
Namun, pada waktu yang sama militer Israel tetap melancarkan serangan udara dan artileri ke wilayah selatan Lebanon.
Serangan tersebut menargetkan puluhan permukiman termasuk kota utama Tyre.
Trump menyatakan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran karena faktor keterlibatan kelompok Hizbullah.
Iran menilai serangan Israel tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat upaya diplomasi dan kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tinggi dan melibatkan berbagai pihak.




