JAKARTA, KOMPAS.com – Setiap pagi dan sore, ribuan penumpang KRL Commuter Line bergerak dari pinggiran menuju pusat kota.
Di antara kerumunan itu, kursi prioritas, yang seharusnya diperuntukkan bagi lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan anak-anak, sering menjadi ajang perebutan.
Fenomena ini tak jarang menimbulkan ketegangan sosial. Pura-pura tidur dan sikap cuek menjadi strategi sebagian penumpang untuk tetap duduk.
Baca juga: Lansia dan Bumil Kehilangan Haknya di KRL: Tak Dapat Kursi Prioritas, Terpaksa Berdiri
Menurut sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai ketidakpatuhan terhadap aturan kursi prioritas mencerminkan ketimpangan dalam pengorganisasian ruang sosial di kereta.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan banyak penumpang yang tidak mematuhi aturan tersebut, misalnya pura-pura tidur.
“Ini bisa dilihat sebagai kegagalan dalam memahami dan mematuhi struktur sosial yang dibangun untuk kesejahteraan bersama,” ujar Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Kamis (9/4/2026).
Menurut Rakhmat, fenomena ini juga menyingkap krisis empati. Banyak penumpang mengutamakan kenyamanan pribadi tanpa mempertimbangkan kondisi orang lain yang lebih membutuhkan.
Ia mencontohkan perilaku beberapa perempuan yang pura-pura tidur atau lelah saat berada di kursi prioritas.
“Terutama di kalangan perempuan ya, perempuan kadang-kadang juga mereka pura-pura tidur lah, lelah lah, atau apalah gitu kan,” ujar dia.
Rakhmat menjelaskan, di kota besar, masyarakat cenderung bersikap individualistik. Fenomena ini bisa dijelaskan melalui teori mobilitas sosial dan anomia.
Akibatnya, orang lebih fokus pada kepentingan pribadi daripada memperhatikan kelompok rentan.
“Kursi prioritas disediakan untuk kelompok rentan, seperti orang tua, ibu hamil, penyandang disabilitas, anak-anak. Itu menggambarkan usaha untuk mengatur ruang sosial agar lebih inklusif,” jelas Rakhmat.
Baca juga: Kursi Prioritas KRL Jadi Rebutan, Rasa Lelah Sepulang Kerja Kaburkan Kesadaran
Hak vs kebutuhanRakhmat juga menyoroti konflik antara hak dan kebutuhan. Individu yang lebih kuat sering merasa berhak duduk, sementara kelompok rentan memiliki kebutuhan lebih mendesak.
“Konflik ini menunjukkan ketidakseimbangan distribusi sumber daya sosial yang tidak merata,” tutur dia.
Struktur kekuasaan yang tidak seimbang membuat orang yang lebih prima fisiknya mendapatkan prioritas dibanding mereka yang lebih lemah.
Perlakuan abai terhadap penumpang prioritas menurut Rakhmat juga merupakan bagian dari budaya sosial perkotaan.
“Ketika norma solidaritas dan kepedulian terhadap orang lain tidak lagi diperkuat, perilaku ini dapat menjadi lebih umum,” kata dia.
Namun, Rakhmat menekankan bahwa budaya ini bisa diubah melalui pendidikan sosial, kampanye kesadaran, dan kebijakan publik yang lebih tegas.
Secara keseluruhan, masalah kursi prioritas KRL mencerminkan isu kompleks yang melibatkan struktur sosial dan krisis empati.
“Hal ini terkait dengan bagaimana masyarakat perkotaan cenderung menempatkan kepentingan pribadi lebih tinggi daripada perhatian terhadap kelompok rentan,” ucap dia.
Rakhmat menegaskan bahwa struktur sosial di kota besar juga bisa menciptakan ketegangan antara hak individu dan kebutuhan orang lain, sehingga solusi yang menyentuh kesadaran kolektif masyarakat sangat diperlukan.
Baca juga: Kursi Prioritas KRL Jadi “Siapa Cepat Dia Dapat”, Empati Penumpang Dipertanyakan
Pengalaman petugas dan penumpangBerdasarkan pengamatan Kompas.com, Kamis (9/4/2026) pukul 18.30 WIB di rangkaian kereta menuju Bogor dari Stasiun Manggarai.
Banyak penumpang non-prioritas tampak duduk santai di kursi prioritas.
Beberapa memakai masker dan kacamata, tidur dengan posisi nyaman, atau memegang tas di depan mereka. Sesekali, lansia terlihat berdiri tanpa ekspresi meminta kursi.
Karena kondisi kereta sangat padat, banyak penumpang hanya menyesuaikan diri agar pulang dengan selamat, meski tidak mendapatkan tempat duduk.
Menurut Fahmi (30) (bukan nama sebenarnya), petugas KRL di Stasiun Manggarai, situasi perebutan kursi di lapangan sering menantang.
“Kami sudah sering mengingatkan melalui pengeras suara, tapi masih banyak yang tetap duduk di kursi prioritas. Ada yang pura-pura sibuk dengan HP atau tidur, baru mau berdiri kalau diingatkan berkali-kali,” kata Fahmi.
Petugas hanya bisa menegur dengan sopan, karena tidak ada sanksi langsung jika penumpang menolak.





