Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikan harga plastik hingga 100% yang terjadi dalam kurun waktu terakhir mulai memberikan tekanan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor makanan dan minuman.
Plastik yang selama ini menjadi komponen utama dalam kemasan mengalami lonjakan harga yang signifikan imbas dari konflik geopolitik global di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Henry Chevalier menilai kenaikan biaya bahan baku plastik berpotensi mendorong inflasi lebih luas di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
“Kantong-kantong kresek saja yang tadinya harga berapa, sekarang sudah naik hampir 50% harganya,” ujar Henry saat dihubungi Bisnis, Rabu (8/4/2026).
Ia menambahkan, lonjakan biaya tersebut meningkatkan ongkos produksi industri hilir dan pada akhirnya berdampak pada harga produk akhir seperti kemasan makanan, minuman, hingga farmasi.
Tekanan Baru bagi UMKM Makanan dan MinumanKenaikan harga plastik yang dipicu lonjakan bahan baku berbasis minyak mentah di pasar global menjadi tekanan baru bagi pelaku UMKM makanan dan minuman (mamin).
Baca Juga
- Harga Plastik Meroket 100%, Akademisi Sebut Momentum Kurangi Penggunaan
- Krisis Plastik, Kementerian UMKM Siapkan Rumput Laut Jadi Alternatif Nafta
- Kenapa Harga Plastik Naik? Ini Penyebab dan Dampaknya bagi Industri dan UMKM
Kondisi ini mempersempit margin keuntungan dan menempatkan pelaku usaha pada pilihan sulit, mulai dari menaikkan harga, mengurangi porsi, hingga menanggung kerugian.
Kelompok UMKM skala kecil menjadi yang paling rentan terdampak. Tanpa penyesuaian strategi, kenaikan biaya produksi berpotensi mengganggu arus kas dan keberlangsungan usaha.
Kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga konsumen. Kenaikan ini dapat berpotensi mendorong kenaikan harga makanan dan minuman. Selain itu, sebagian pelaku usaha mulai mengurangi ukuran produk sebagai bentuk penyesuaian biaya.
Ketergantungan Impor Bahan BakuKenaikan harga plastik juga dipengaruhi tingginya ketergantungan impor bahan baku di tengah gejolak geopolitik global, termasuk penutupan Selat Hormuz. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menyebut sekitar 70% bahan baku industri plastik nasional masih berasal dari impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini membuat harga domestik sangat rentan terhadap fluktuasi global.
Pemerintah Cari SolusiSementara itu, Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyatakan pihaknya telah menerima keluhan pelaku UMKM terkait kenaikan harga bahan baku plastik.
Ia juga menyampaikan, pemerintah melalui jajaran eselon I tengah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk mencari solusi atas lonjakan tersebut. Namun, Maman menjelaskan pemerintah masih membahas serta mengkaji kebijakan yang akan diambil.
“Seperti apa langkah-langkahnya, saya pikir terlalu dini untuk saya kasih jawaban, walaupun kita sudah tahu langkah-langkahnya seperti apa, tetapi saya pikir biarkan dulu ini menjadi pembicaraan di tim eselon 1, eselon 2,” jelasnya.
Untuk meredam dampak jangka pendek, pemerintah mulai mengalihkan pasokan bahan baku plastik ke negara yang dinilai lebih stabil seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat. Saat ini, proses pengalihan tersebut masih berada pada tahap administrasi.
Ke depan, pemerintah memperkirakan harga plastik berpotensi kembali stabil seiring pulihnya rantai pasok melalui pasar alternatif. Selain itu, koordinasi dengan Kementerian Perdagangan juga dilakukan untuk menyiapkan langkah stabilisasi, termasuk melalui operasi pasar.





