Habis Luncurkan Serangan Besar-besaran, Israel Kini Minta Berunding dengan Lebanon

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Israel kini tengah buru-buru mendorong adanya negosiasi damai dengan Lebanon. Hal tersebut menyusul serangan besar-besaran yang dilancarkannya menuju wilayah tersebut dapat menghancurkan gencatan senjata dari Iran, Tel Aviv dan Amerika Serikat.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan akan mendorong perundingan langsung dengan Lebanon. Ia menegaskan bahwa agenda utama perundingan adalah melucuti kelompok dari Hezbollah.

Baca Juga: Mojtaba Khamenei: Iran Akan Menuntut Ganti Rugi atas Serangan Israel dan Amerika Serikat

Selain itu, sang perdana menteri juga mengatakan bahwa pihaknya ingin membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon. Netanyahu mengaku telah menginstruksikan dimulainya pembicaraan secepat mungkin.

"Negosiasi akan fokus pada pelucutan senjata militan dan membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon," katanya.

Adapun Presiden Lebanon, Joseph Aoun menyatakan pihaknya tengah mengembangkan jalur diplomasi yang mulai mendapat respons positif dari komunitas internasional terkait dengan serangan dari Israel.

Beirut sebelumnya juga mendorong gencatan senjata sementara sebagai langkah awal menuju perundingan yang lebih luas di Timur Tengah.

Sementara Perwakilan Hezbollah, Ali Fayyad, menolak negosiasi langsung dengan Israel. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata harus menjadi prasyarat sebelum pembicaraan lebih lanjut dilakukan.

Sebelumnya,  Pakistan mengumumkan bahwa negosiasi damai akan berlanjut pekan ini usai tercapainya gencatan senjata selama dua minggu dari Iran dan Amerika Serikat. Proposal kedua negara menjadi perhatian karena akan menjadi penentuan tercapainya kedamaian di Timur Tengah.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa kedua negara telah menyepakati gencatan senjata yang berlaku segera dalam seluruh wilayah konflik, termasuk di Lebanon. Ia juga mengonfirmasi bahwa pihaknya akan menjadi lokasi perundingan lanjutan antara kedua pihak.

Iran dan Amerika Serikat diundang untuk hadir dalam pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung pada 10 April 2026. Negosiasi pada hari itu dilakukan guna mencapai kesepakatan final yang menyelesaikan seluruh perselisihan dari Washington dan Teheran.

Namun gencatan senjata itu hampir saja batal karena aksi militer dari Israel. Diketahui, Israel melancarkan serangan paling intens ke Lebanon. Serangan tersebut menewaskan ratusan orang dan terjadi di tengah gencatan senjata dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat.

Menurut laporan, sedikitnya lima ledakan besar juga mengguncang wilayah dari dari Beirut. Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka. Serangan ini menjadi serangan yang paling mematikan sejak konflik dimulai pada awal Maret.

Iran beranggapan bahwa kesepakatan gencatan senjata mencakup Lebanon. Sementara Amerika Serikat dan Israel menegaskan sebaliknya. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perbedaan ini sebagai kesalahpahaman dalam proses negosiasi.

Baca Juga: Soroti Kasus Netanyahu, Iran Waspada Serangan Amerika Serikat Saat Negosiasi di Pakistan

Vance menyatakan bahwa negosiator dari negara tersebut mengira gencatan senjata juga mencakup Lebanon. Padahal menurutnya hal tersebut tidaklah demikian. Ia menyebut hal ini sebagai kesalahpahaman yang wajar terjadi dalam proses negosiasi yang kompleks antara Iran dan Amerika Serikat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Satu Dekade Berdiri di Fasum, Ratusan PKL Biringkanaya Akhirnya Ditertibkan
• 23 jam laluterkini.id
thumb
BI Optimis Inflasi DIY Tetap Terkendali Pascalebaran
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Trump Tuding Iran Kenakan Tarif Untuk Kapal yang Melintasi Selat Hormuz
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
PHE Bidik Produksi Minyak Capai 595 Ribu BOEPD, Naik 6,82 Persen
• 53 menit lalukumparan.com
thumb
73 Negara Bersatu Desak Keselamatan dan Keamanan Pasukan Perdamaian di Lebanon
• 5 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.