Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong diversifikasi pasar ekspor baja Indonesia dengan menyasar kawasan Timur Tengah dan negara industri berkembang, guna mengurangi ketergantungan terhadap satu negara tujuan utama sekaligus memperkuat ketahanan industri nasional.
Menperin ditemui di Jakarta, Jumat menyampaikan, saat ini ekspor baja Indonesia masih terkonsentrasi ke China. Kondisi tersebut dinilainya berisiko apabila terjadi gangguan ekonomi di negara tujuan utama.
Ia menjelaskan bahwa ketika ketergantungan terhadap satu pasar terlalu tinggi, maka potensi gejolak ekonomi di negara bersangkutan dapat langsung berdampak pada kinerja industri baja nasional.
"Jadi, saya khawatir ada ketergantungan negara tujuan ekspor kita ke satu negara. Ketika itu terjadi, maka kalau kita mengasumsikan negara tersebut ada turmoil, ada masalah ekonomi, itu pasti akan berdampak pada industri baja kita," kata dia.
Baca juga: Krakatau Steel cetak laba bersih Rp5,68 triliun pada 2025
Meski demikian, Menperin menegaskan bahwa tingginya permintaan dari China tetap merupakan hal positif bagi kinerja ekspor nasional.
Namun, Indonesia tetap harus mengantisipasi risiko ke depan apabila terjadi perlambatan atau gangguan ekonomi di negara tersebut yang berpotensi menekan ekspor baja nasional.
Sebagai alternatif, pemerintah melihat peluang ekspor ke kawasan Timur Tengah yang dinilai memiliki kebutuhan besar terhadap produk baja, terutama untuk pembangunan kembali infrastruktur dan fasilitas industri seperti kilang (refinery).
Selain itu, negara-negara dengan basis industri baja yang belum kuat juga dinilai sebagai pasar potensial baru bagi ekspor Indonesia.
Baca juga: Kemenperin perkuat penerapan SNI baja guna jaga keamanan konstruksi
"Negara-negara yang kekuatan industri bajanya, atau di sekitar atau kawasan yang kekuatan industri bajanya masih belum sounds, masih belum terlalu kuat, itu juga bisa menjadi target market kita selanjutnya," katanya.
Secara kinerja, ekspor produk baja Indonesia pada 2025 masih didominasi lima pasar utama, yakni China, Taiwan, India, Vietnam, dan Italia dari total nilai ekspor baja nasional sekitar 29,7 miliar dolar AS.
China menjadi tujuan terbesar dengan nilai lebih dari 17,9 miliar dolar AS, disusul Taiwan sekitar 1,8 miliar dolar AS, India 1,6 miliar dolar AS, Vietnam 864 juta dolar AS, dan Italia 777 juta dolar AS.
Menurutnya, capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara, mencerminkan daya saing produk baja nasional di pasar regional maupun global.
Baca juga: Kemenkeu ungkap modus manipulasi pajak oleh perusahaan
Dari sisi perdagangan, kinerja ekspor-impor besi dan baja (HS 72–73) dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif. Pada 2025, ekspor tercatat mencapai 23,97 juta ton, sementara impor sebesar 16,69 juta ton, menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar 7,28 juta ton, tertinggi dalam periode tersebut.
Namun, jika komoditas ferronikel dikeluarkan dari perhitungan, neraca perdagangan justru menunjukkan defisit. Pada 2025, defisit tercatat sekitar 3,7 juta ton dengan impor mencapai 16,07 juta ton dan ekspor hanya 12,3 juta ton. Impor tersebut didominasi bahan baku yang mencapai 86 persen dari total volume.
Kondisi ini menegaskan bahwa tantangan industri baja nasional tidak hanya terletak pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pada penguatan sektor antara dan hilir dengan spesifikasi teknis yang lebih tinggi.
Lebih lanjut, di tengah tekanan global, industri baja juga menghadapi kelebihan kapasitas produksi dunia. Proyeksi OECD menunjukkan bahwa pada 2027 kapasitas produksi baja global diperkirakan mencapai 2.637 juta ton, sementara kebutuhan hanya sekitar 1.916 juta ton, sehingga terjadi kelebihan kapasitas hampir 38 persen.
Baca juga: Krakatau Steel: KOS tutup karena persaingan dengan baja impor murah
Selain itu, kebijakan perdagangan internasional seperti tarif protektif Amerika Serikat serta kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa turut mempengaruhi daya saing ekspor baja Indonesia, sekaligus mendorong transformasi menuju produksi yang lebih ramah lingkungan.
Di dalam negeri, tantangan juga datang dari masuknya baja prafabrikasi, potensi praktik penghindaran kebijakan (circumvention), serta perlunya penguatan instrumen perlindungan industri dari hulu hingga hilir.
Merespons berbagai tantangan tersebut, Kemenperin menyiapkan sejumlah strategi, antara lain penguatan instrumen trade remedies, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara ini konsisten, percepatan transformasi menuju baja hijau, peningkatan investasi di sektor hulu, serta pendalaman hilirisasi yang terintegrasi dengan sektor strategis seperti perkapalan, otomotif, dan infrastruktur.
Menperin ditemui di Jakarta, Jumat menyampaikan, saat ini ekspor baja Indonesia masih terkonsentrasi ke China. Kondisi tersebut dinilainya berisiko apabila terjadi gangguan ekonomi di negara tujuan utama.
Ia menjelaskan bahwa ketika ketergantungan terhadap satu pasar terlalu tinggi, maka potensi gejolak ekonomi di negara bersangkutan dapat langsung berdampak pada kinerja industri baja nasional.
"Jadi, saya khawatir ada ketergantungan negara tujuan ekspor kita ke satu negara. Ketika itu terjadi, maka kalau kita mengasumsikan negara tersebut ada turmoil, ada masalah ekonomi, itu pasti akan berdampak pada industri baja kita," kata dia.
Baca juga: Krakatau Steel cetak laba bersih Rp5,68 triliun pada 2025
Meski demikian, Menperin menegaskan bahwa tingginya permintaan dari China tetap merupakan hal positif bagi kinerja ekspor nasional.
Namun, Indonesia tetap harus mengantisipasi risiko ke depan apabila terjadi perlambatan atau gangguan ekonomi di negara tersebut yang berpotensi menekan ekspor baja nasional.
Sebagai alternatif, pemerintah melihat peluang ekspor ke kawasan Timur Tengah yang dinilai memiliki kebutuhan besar terhadap produk baja, terutama untuk pembangunan kembali infrastruktur dan fasilitas industri seperti kilang (refinery).
Selain itu, negara-negara dengan basis industri baja yang belum kuat juga dinilai sebagai pasar potensial baru bagi ekspor Indonesia.
Baca juga: Kemenperin perkuat penerapan SNI baja guna jaga keamanan konstruksi
"Negara-negara yang kekuatan industri bajanya, atau di sekitar atau kawasan yang kekuatan industri bajanya masih belum sounds, masih belum terlalu kuat, itu juga bisa menjadi target market kita selanjutnya," katanya.
Secara kinerja, ekspor produk baja Indonesia pada 2025 masih didominasi lima pasar utama, yakni China, Taiwan, India, Vietnam, dan Italia dari total nilai ekspor baja nasional sekitar 29,7 miliar dolar AS.
China menjadi tujuan terbesar dengan nilai lebih dari 17,9 miliar dolar AS, disusul Taiwan sekitar 1,8 miliar dolar AS, India 1,6 miliar dolar AS, Vietnam 864 juta dolar AS, dan Italia 777 juta dolar AS.
Menurutnya, capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara, mencerminkan daya saing produk baja nasional di pasar regional maupun global.
Baca juga: Kemenkeu ungkap modus manipulasi pajak oleh perusahaan
Dari sisi perdagangan, kinerja ekspor-impor besi dan baja (HS 72–73) dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif. Pada 2025, ekspor tercatat mencapai 23,97 juta ton, sementara impor sebesar 16,69 juta ton, menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar 7,28 juta ton, tertinggi dalam periode tersebut.
Namun, jika komoditas ferronikel dikeluarkan dari perhitungan, neraca perdagangan justru menunjukkan defisit. Pada 2025, defisit tercatat sekitar 3,7 juta ton dengan impor mencapai 16,07 juta ton dan ekspor hanya 12,3 juta ton. Impor tersebut didominasi bahan baku yang mencapai 86 persen dari total volume.
Kondisi ini menegaskan bahwa tantangan industri baja nasional tidak hanya terletak pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pada penguatan sektor antara dan hilir dengan spesifikasi teknis yang lebih tinggi.
Lebih lanjut, di tengah tekanan global, industri baja juga menghadapi kelebihan kapasitas produksi dunia. Proyeksi OECD menunjukkan bahwa pada 2027 kapasitas produksi baja global diperkirakan mencapai 2.637 juta ton, sementara kebutuhan hanya sekitar 1.916 juta ton, sehingga terjadi kelebihan kapasitas hampir 38 persen.
Baca juga: Krakatau Steel: KOS tutup karena persaingan dengan baja impor murah
Selain itu, kebijakan perdagangan internasional seperti tarif protektif Amerika Serikat serta kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa turut mempengaruhi daya saing ekspor baja Indonesia, sekaligus mendorong transformasi menuju produksi yang lebih ramah lingkungan.
Di dalam negeri, tantangan juga datang dari masuknya baja prafabrikasi, potensi praktik penghindaran kebijakan (circumvention), serta perlunya penguatan instrumen perlindungan industri dari hulu hingga hilir.
Merespons berbagai tantangan tersebut, Kemenperin menyiapkan sejumlah strategi, antara lain penguatan instrumen trade remedies, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara ini konsisten, percepatan transformasi menuju baja hijau, peningkatan investasi di sektor hulu, serta pendalaman hilirisasi yang terintegrasi dengan sektor strategis seperti perkapalan, otomotif, dan infrastruktur.





