Pantau - Pemerintah Indonesia memperluas sumber pasokan energi dari berbagai kawasan dunia guna mengantisipasi potensi gangguan distribusi global, khususnya yang melewati Selat Hormuz.
Diversifikasi Pasokan dan Optimalisasi DomestikDirektur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Hendra Gunawan menyatakan langkah ini dilakukan dengan mencari sumber energi alternatif dari sejumlah wilayah.
"Di samping sumber-sumber energi yang melewati Selat Hormuz, kita memperluas ke kawasan lain, antara lain dari Amerika Serikat, Afrika, Asia Timur dan Tengah," ujarnya di Jakarta, Jumat (10/4).
Selain diversifikasi impor, pemerintah juga mengoptimalkan produksi dalam negeri dengan mengalihkan sebagian minyak mentah dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk kebutuhan domestik.
"Untuk minyak mentah atau minyak bumi, optimalisasi hasil KKKS dilakukan untuk kepentingan domestik. Ditjen Migas memeriksa semua KKKS untuk mengalihkan ekspor yang diperlukan di dalam negeri, serta optimalisasi sumber daya domestik untuk produksi BBM dan LPG," jelas Hendra.
Tantangan Harga dan Ketahanan EnergiPengamat energi Komaidi Notonegoro menilai kebijakan pemerintah menjaga harga BBM di tengah lonjakan harga minyak global dapat dipahami, namun memiliki risiko terhadap ketahanan energi.
Ia mengungkapkan adanya selisih antara harga keekonomian dan harga jual BBM yang diperkirakan mencapai Rp5.000 hingga Rp9.000 per liter.
"Berapa bulan mereka (Pertamina) tahan dengan cashflow yang ada. Belum lagi mereka juga mungkin ada beberapa bond yang akan jatuh tempo juga, jadi harus bayar cicilan pokoknya maupun bunga utangnya," ungkap Komaidi.
Dengan volume penjualan BBM sekitar 200 ribu kiloliter per hari, kebutuhan tambahan dana diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun per hari atau sekitar Rp60 triliun per bulan.
Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional Muhammad Kholid Syeirazi menyoroti kondisi pasar energi global yang kini didominasi penjual.
"Apalagi sekarang situasinya namanya sales market. Jadi market itu didikte oleh penjual," katanya.
Ia menambahkan bahwa tingginya harga minyak dunia yang telah melampaui 100 dolar AS per barel membuat tekanan terhadap kebijakan energi domestik semakin besar.
Sebagai informasi tambahan, langkah diversifikasi dan optimalisasi ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global.




