Pemerintah Perluas Sumber Energi Global untuk Antisipasi Gangguan Distribusi Selat Hormuz

pantau.com
12 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Pemerintah Indonesia memperluas sumber pasokan energi dari berbagai kawasan dunia guna mengantisipasi potensi gangguan distribusi global, khususnya yang melewati Selat Hormuz.

Diversifikasi Pasokan dan Optimalisasi Domestik

Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Hendra Gunawan menyatakan langkah ini dilakukan dengan mencari sumber energi alternatif dari sejumlah wilayah.

"Di samping sumber-sumber energi yang melewati Selat Hormuz, kita memperluas ke kawasan lain, antara lain dari Amerika Serikat, Afrika, Asia Timur dan Tengah," ujarnya di Jakarta, Jumat (10/4).

Selain diversifikasi impor, pemerintah juga mengoptimalkan produksi dalam negeri dengan mengalihkan sebagian minyak mentah dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk kebutuhan domestik.

"Untuk minyak mentah atau minyak bumi, optimalisasi hasil KKKS dilakukan untuk kepentingan domestik. Ditjen Migas memeriksa semua KKKS untuk mengalihkan ekspor yang diperlukan di dalam negeri, serta optimalisasi sumber daya domestik untuk produksi BBM dan LPG," jelas Hendra.

Tantangan Harga dan Ketahanan Energi

Pengamat energi Komaidi Notonegoro menilai kebijakan pemerintah menjaga harga BBM di tengah lonjakan harga minyak global dapat dipahami, namun memiliki risiko terhadap ketahanan energi.

Ia mengungkapkan adanya selisih antara harga keekonomian dan harga jual BBM yang diperkirakan mencapai Rp5.000 hingga Rp9.000 per liter.

"Berapa bulan mereka (Pertamina) tahan dengan cashflow yang ada. Belum lagi mereka juga mungkin ada beberapa bond yang akan jatuh tempo juga, jadi harus bayar cicilan pokoknya maupun bunga utangnya," ungkap Komaidi.

Dengan volume penjualan BBM sekitar 200 ribu kiloliter per hari, kebutuhan tambahan dana diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun per hari atau sekitar Rp60 triliun per bulan.

Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional Muhammad Kholid Syeirazi menyoroti kondisi pasar energi global yang kini didominasi penjual.

"Apalagi sekarang situasinya namanya sales market. Jadi market itu didikte oleh penjual," katanya.

Ia menambahkan bahwa tingginya harga minyak dunia yang telah melampaui 100 dolar AS per barel membuat tekanan terhadap kebijakan energi domestik semakin besar.

Sebagai informasi tambahan, langkah diversifikasi dan optimalisasi ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Deddy Sitorus Jawab Gibran soal Sama-sama Berkantor di IKN: Tak Ada Kementerian, DPR Mau Ngapain?
• 14 jam lalukompas.com
thumb
HUT TNI AU, Pesawat Kepresidenan Prabowo Dikawal Empat F-16 dan Dua T50 Golden Eaglev
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
50 Persen ASN Pemprov DKI WFH Jakarta Setiap Jumat | KOMPAS MALAM
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Rp31,3 Triliun Uang Negara Diselamatkan, Prabowo: Bisa Digunakan untuk Perbaiki 34 Ribu Sekolah
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Antisipasi Risiko Banjir Jakarta, Kanal Banjir Barat Dikeruk Maraton Selama Setahun
• 11 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.