REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut masa kritis pasokan bahan bakar minyak (BBM) akibat dinamika global telah terlewati. Pemerintah menilai ketahanan energi nasional mulai stabil seiring terjaganya stok dan penguatan kebijakan energi domestik.
Perkembangan terbaru menunjukkan Iran telah membuka Selat Hormuz dengan sejumlah syarat setelah pihak-pihak yang berkonflik menyepakati gencatan senjata. Pembukaan jalur tersebut memberi sentimen positif terhadap kelancaran distribusi energi global, termasuk bagi Indonesia.
Baca Juga
Coachella 2026 Dibuka dengan Headliner Sabrina Carpenter dan Justin Bieber
Implementasi Biodiesel B50, Kapasitas Produksi Harus Diperkuat
Rencana Kerja 2026, Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
Bahlil memastikan saat ini stok energi nasional berada dalam kondisi aman, dengan cadangan BBM di atas 20 hari dan LPG lebih dari 10 hari. Pemerintah juga terus memperkuat cadangan penyangga energi untuk mengantisipasi potensi gejolak global ke depan.
“Jadi sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa masa kritis kita terhadap dinamika global untuk BBM alhamdulillah kita sudah lewati,” kata Menteri ESDM di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Bahlil mengingatkan masyarakat agar menggunakan energi secara bijak. Efisiensi penggunaan BBM dan LPG dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ketahanan energi nasional.
“Sudah barang tentu saya meminta kepada seluruh masyarakat kita harus bijak, arif dalam memakai BBM termasuk LPG,” ujarnya.
Pemerintah juga terus mendorong implementasi program biodiesel B50 sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. Uji coba B50 telah berjalan dengan capaian 60 hingga 70 persen di berbagai sektor, mulai dari alat berat, kereta api, kapal, hingga kendaraan.