Rio De Janeiro: Merespons tingginya volatilitas harga energi di pasar global, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva resmi mengambil langkah intervensi fiskal yang dituangkan melalui serangkaian kebijakan yang dirancang sebagai bantalan pelindung (shock absorber) untuk mengamankan perekonomian domestik, sekaligus ketahanan energi nasional.
Bagian utama dari langkah tersebut berfokus pada kelancaran rantai pasok logistik, yakni melalui penyaluran subsidi bahan bakar diesel yang menjadi urat nadi transportasi barang di Brasil. Melalui skema pendanaan bersama, pemerintah federal dan negara bagian sepakat mengalokasikan subsidi sebesar 1,20 real (sekitar USD0,23) per liter untuk diesel impor, dengan pemerintah federal menanggung setengah dari subsidi tersebut.
Di saat yang sama, komitmen pemerintah terhadap transisi energi hijau tetap terjaga. Pada sektor bahan bakar terbarukan, pemerintah membebaskan dua instrumen pajak federal untuk sektor biodiesel yang memangkas harga eceran sebesar 0,02 real (USD0,004) per liter. Biodiesel saat ini mewakili sebesar 15 persen dari total campuran diesel yang beredar di pasar domestik Brasil.
(Ilustrasi. Foto: dok ICDX)
Jaga daya beli dan industri aviasi Bagian utama dari langkah tersebut berfokus pada kelancaran rantai pasok logistik, yakni melalui penyaluran subsidi bahan bakar diesel yang menjadi urat nadi transportasi barang di Brasil. Melalui skema pendanaan bersama, pemerintah federal dan negara bagian sepakat mengalokasikan subsidi sebesar 1,20 real (sekitar USD0,23) per liter untuk diesel impor, dengan pemerintah federal menanggung setengah dari subsidi tersebut.
Di saat yang sama, komitmen pemerintah terhadap transisi energi hijau tetap terjaga. Pada sektor bahan bakar terbarukan, pemerintah membebaskan dua instrumen pajak federal untuk sektor biodiesel yang memangkas harga eceran sebesar 0,02 real (USD0,004) per liter. Biodiesel saat ini mewakili sebesar 15 persen dari total campuran diesel yang beredar di pasar domestik Brasil.
(Ilustrasi. Foto: dok ICDX)
Guna melindungi daya beli masyarakat, kebijakan tersebut juga menyasar pada stabilitas harga liquefied petroleum gas (LPG) yang menjadi kebutuhan rumah tangga. Pemerintah Brasil menetapkan subsidi atas seluruh impor LPG sebesar 850 real (USD 165) per ton untuk beberapa bulan ke depan.
Dengan total alokasi anggaran yang diestimasikan mencapai 330 juta real (sekitar USD64 juta), langkah ini ditujukan untuk menghapus disparitas harga antara LPG impor dan produksi lokal. Penyetaraan harga ini diharapkan dapat mengurangi dampak bagi keluarga berpenghasilan rendah dari tekanan inflasi energi internasional.
Tak hanya mengamankan sektor rumah tangga dan darat, stimulus ini turut menyuntikkan likuiditas bagi industri aviasi. Pemerintah mengumumkan pembukaan dua fasilitas kredit komersial khusus untuk sektor penerbangan, dengan total pagu pinjaman mencapai 9 miliar real (USD1,75 miliar).
Sebagai upaya memastikan efektivitas seluruh instrumen kebijakan tersebut, Presiden Lula mendesak Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada kongres untuk mengkriminalisasi praktik manipulasi harga yang tidak wajar oleh para pelaku pasar, dengan ancaman sanksi pidana kurungan yang tegas, mulai dari dua hingga lima tahun penjara.




