Penulis: Fityan
TVRINews – Moscow
Moskow dan Kyiv menyetujui jeda pertempuran selama 32 jam di tengah kebuntuan diplomasi dan tekanan medan perang.
Di tengah eskalasi konflik yang terus membara, Rusia dan Ukraina secara mengejutkan menyepakati gencatan senjata singkat selama 32 jam untuk menghormati perayaan Paskah Ortodoks.
Hal ini menjadi momen langka bagi kedua negara yang bertikai untuk menurunkan intensitas senjata di tengah kebuntuan upaya diplomatik yang lebih luas.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan jeda kemanusiaan tersebut secara resmi, yang kemudian dikonfirmasi oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.
Berdasarkan keterangan resmi Kremlin pada Kamis waktu setempat, penghentian operasi militer akan dimulai pada Sabtu 11 April 2026 pukul 16.00 waktu Moskow (13.00 GMT) dan berakhir pada Minggu 12 April 2026 tengah malam.
"Kami melangkah dengan dasar bahwa pihak Ukraina akan mengikuti contoh yang diberikan Federasi Rusia," tulis pernyataan resmi Kremlin yang dikutip Al Jazeera Jumat 10 April 2026.
Menteri Pertahanan Rusia, Andrei Belousov, dilaporkan telah menginstruksikan Kepala Staf Umum, Valery Gerasimov, untuk menghentikan seluruh operasi militer selama periode tersebut. Meski demikian, pihak Moskow menegaskan bahwa pasukan Rusia akan tetap dalam posisi siaga untuk merespons jika terjadi pelanggaran di lapangan.
Respons Kyiv dan Dinamika Lapangan
Menanggapi keputusan tersebut, Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan melalui kanal Telegram pribadinya bahwa Ukraina memang telah mengusulkan langkah serupa. Ia menegaskan kesiapan Kyiv untuk melakukan langkah timbal balik demi kemanusiaan.
"Rakyat membutuhkan Paskah tanpa ancaman dan langkah nyata menuju perdamaian. Rusia memiliki kesempatan untuk tidak kembali melakukan serangan bahkan setelah Paskah berakhir," ujar Zelenskyy dalam pernyataannya.
Namun, bayang-bayang pesimisme tetap menyelimuti kesepakatan ini. Hanya beberapa jam setelah pengumuman tersebut, Gubernur wilayah Dnipropetrovsk, Oleksandr Ganzha, melaporkan adanya serangan artileri dan udara Rusia yang menewaskan dua warga sipil.
"Musuh menyerang tiga distrik di wilayah tersebut hampir 30 kali menggunakan pesawat tak berawak dan artileri," tulis Ganzha di Telegram pada Jumat.
Jalur Komunikasi Kemanusiaan
Meski negosiasi politik secara makro masih menemui jalan buntu, jalur komunikasi kemanusiaan antara kedua belah pihak dilaporkan tetap aktif. Berdasarkan laporan Al Jazeera dari Moskow, kedua negara baru saja menyelesaikan pertukaran jenazah tentara dalam skala besar.
"Moskow menyerahkan jenazah 1.000 tentara Ukraina ke Kyiv, dengan imbalan 41 jenazah tentara Rusia," lapor koresponden Yulia Shapovalova.
Sepanjang tahun ini, lebih dari 500 jenazah prajurit Rusia dan lebih dari 19.000 jenazah tentara Ukraina telah dikembalikan melalui proses pertukaran rutin yang seringkali dimediasi oleh Turki.
Selain pertukaran jenazah, pertukaran tahanan secara periodik tetap menjadi salah satu dari sedikit jalur komunikasi yang masih berfungsi.
Tekanan Diplomatik dan Militer
Gencatan senjata singkat ini terjadi saat perhatian global, khususnya Washington, mulai teralihkan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Moskow tidak mendiskusikan proposal Paskah ini sebelumnya dengan Amerika Serikat.
Zelenskyy mengakui bahwa bulan-bulan mendatang akan menjadi tantangan berat bagi Ukraina, baik secara militer maupun politik.
"Periode musim semi-panas ini akan cukup sulit secara politik dan diplomatik. Akan ada tekanan terhadap Ukraina, baik di meja perundingan maupun di medan perang," ungkap Zelenskyy.
Ia menambahkan bahwa masa krusial ini kemungkinan akan terus berlanjut hingga September mendatang, seiring dengan pergeseran prioritas geopolitik dari negara-negara sekutunya.
Editor: Redaktur TVRINews





