JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf mengaku bakal berusaha bertemu dengan pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto untuk berdiskusi soal dampak dan cara menghadapi efek perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
“Sesudah ini saya akan melakukan appeal untuk bisa bertemu dengan pihak-pihak pemerintah terutama terkait dengan inisiatif-inisiatif untuk membangun Society Resilience itu ya,” ujar Yahya saat konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Serukan Hentikan Perang Timur Tengah
Yahya menegaskan, diskusi dengan pihak pemerintah tidak akan menyinggung soal politik internasional, tapi lebih ke soal bagaimana masyarakat bersiap untuk menghadapi dampak perang.
“Kalau soal politik internasional ya itu kan wewenang pemerintah. NU enggak punya Dubes, enggak punya Menlu. Enggak mungkin. Itu wewenang pemerintah,” imbuh Yahya.
Baca juga: Ukraina Mulai Beraksi Jatuhkan Drone Iran di Timur Tengah
Sejak perang AS-Iran pecah, Yahya mengaku sudah berkeliling untuk menemui para duta besar dari negara-negara di Timur Tengah.
Mereka yang ditemui antara lain, Dubes dari Republik Islam Iran, Mohammad Boroujerdi, Dubes Kerajaan Saudi Arabia, Faisal Abdullah Al-Amoudi, Dubes Amerika Serikat, Peter Mark Haymond, Dubes Turki, Talip Kucukcan, serta diundang dalam pertemuan para duta besar negara teluk Arab, serta Kerajaan Yordania.
“Pertanyaan saya kepada setiap dubes yang saya temui itu sama sebetulnya. What can we expect to go further from this? Apa yang bisa kita harapkan sesudah ini terjadi ini?” katanya.
Baca juga: AS Disebut Hadapi Bencana Politik dan Ekonomi dalam Perang Iran
Yahya mengaku menanyakan ini agar bisa memetakan dan mengantisipasi dampak yang kemungkinan terjadi.
“Supaya apa? Kita ngerti apa yang harus kita antisipasi gitu lho. Itu sekadar semua itu, saya bukannya berunding dengan berunding dengan Iran, enggak mungkin, NU bukan pemerintah tidak bisa mewakili negara,” imbuhnya.
Dalam konferensi pers ini, Yahya menyinggung konsep ketahanan sosial atau social resilience, yaitu bagaimana masyarakat bisa punya ketahanan kolektif untuk menghadapi tantangan yang ada.
“Maka kami membuat, menginisiasi gerakan peningkatan ketahanan sosial untuk menciptakan realitas societal resilience itu. Dan ini, tidak bisa dilakukan sepihak oleh elemen manapun. Ini harus dilakukan bersama-sama,” imbuhnya.
Yahya mengatakan, Indonesia beruntung masyarakatnya sudah memiliki tradisi gotong-royong.
Ke depan, semangat ini perlu digunakan untuk memastikan masyarakat bisa bergerak bersama menghadapi masalah yang ada.
Gejolak PerangPerang antara AS-Israel dengan Iran meletus pada 28 Februari 2026. Saat itu, rudal AS-Israel menghantam sejumlah titik di Iran, dan menewaskan pimpinan tertingginya Ali Khamenei.
Iran melakukan serangan balik dengan mengirim rudal ke sejumlah lokasi di Israel dan pangkalan militer AS di beberapa negara Timur Tengah.





