REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan iklim tidak lagi menjadi isu masa depan, tetapi realitas yang langsung memengaruhi kebijakan, ekonomi, hingga praktik di lapangan. Dari ruang akademik hingga sektor industri, berbagai pihak mulai menyesuaikan strategi untuk menghadapi dinamika cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat respons berbasis sains. Di sisi lain, pelaku industri juga dituntut adaptif agar tetap mampu menjaga kinerja di tengah tekanan iklim yang meningkat.
Baca Juga
Kloter Pertama Jamaah Haji Jateng akan Diberangkatkan 22 April 2026
Masih Bingung Pilih Jurusan? Coba Intip Kisaran Gaji Lulusan Prodi Digital Ini
Skor PISA Indonesia Rendah, Kemendikdasmen Gandeng Mitra Kolaborasi Tingkatkan Literasi dan Numerasi
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat kerja sama dalam membangun ketahanan iklim berbasis riset. Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas Rijal M Idrus menegaskan pentingnya edukasi berbasis bukti ilmiah yang dapat diakses luas oleh masyarakat.
“Integrasi program ke dalam skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik juga menjadi salah satu strategi kunci,” ujarnya, seraya menekankan peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tingkat lokal.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Direktur Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim KLH Irawan Asaad menambahkan, ketersediaan data terintegrasi menjadi fondasi penting dalam pengambilan kebijakan. Pendekatan berbasis sains, menurutnya, memungkinkan pemerintah memetakan risiko secara lebih akurat sekaligus merancang langkah mitigasi yang efektif.
Di sektor riil, dampak perubahan iklim mulai terasa nyata. PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo melakukan penyesuaian jadwal panen kopi akibat tingginya curah hujan pada awal 2026. Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, kondisi cuaca memaksa perusahaan mengubah ritme produksi demi menjaga kualitas hasil.
“Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi kinerja keuangan segmen kopi di perusahaan kami untuk tetap mencatatkan hasil positif,” kata Jatmiko.
Perusahaan mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp3,43 miliar pada triwulan I 2026, dengan penjualan yang meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, tekanan di sisi produksi tetap menjadi tantangan, terutama karena berkurangnya intensitas sinar matahari yang memengaruhi proses pematangan buah kopi.