Kapsul Orion bernama Integrity yang membawa empat antariksawan dalam misi Artemis II untuk memutari bagian belakang Bulan siap kembali ke Bumi. Wahana itu diperkirakan akan mendarat di Samudra Pasifik di lepas pantai San Diego, Amerika Serikat, pada Jumat (10/4/2026) petang waktu setempat atau Sabtu (11/4) pagi waktu Jakarta.
Meski Orion telah berhasil terbang melintas di dekat permukaan Bulan pada Senin (6/4) lalu, fase perjalanan memasuki kembali atmosfer Bumi menjadi salah satu bagian penerbangan paling berbahaya.
Dari total perjalanan sejauh 1.118.624 kilometer (km) yang telah ditempuh Orion, penerbangan sejauh 160 km terakhir menjelang memasuki angkasa Bumi hingga sampai di permukaan Bumi bisa membahayakan nyawa awak di dalamnya.
Integrity akan memasuki atmosfer Bumi pada ketinggian 120 km di atas Bumi. Saat itu, wahana bergerak dengan kecepatan 38.367 km per jam atau 10,65 km per detik. Dengan kecepatan setinggi itu, maka penerbangan dari New York, AS ke Tokyo.
Jepang yang biasanya ditempuh selama 14 jam hanya akan dilalui dalam 20 menit saja. Kecepatan tinggi tersebut membuat proses Orion melintasi atmosfer Bumi hingga mendarat di atas laut hanya membutuhkan waktu 14 menit saja.
Setelah memasuki atmosfer, seperti ditulis Space, Integrity akan memasuki fase delapan menit yang dramatis. Gesekan wahana dengan atmosfer Bumi yang makin rapat akan membuat wahana diselimuti bola api. Pada fase berbahaya ini, komunikasi dengan pusat pengendali misi juga harus diputuskan untuk sementara.
Semula, Orion direncanakan akan masuk kembali ke atmosfer Bumi dengan cara seperti batu yang dilemparkan ke permukaan air, yaitu menyentuh air, melayang di udara, mengenai permukaan air kembali, terbang melayang lagi, hingga akhirnya tenggelam dalam air.
Teknik itu dipilih untuk mengurangi besarnya gesekan dengan atmosfer Bumi secara terus menerus, tetapi tetap mampu mengurangi kecepatan wahana. Cara ini bisa dilakukan jika sudut kedatangan wahana terhadap atmosfer Bumi cukup landai.
Metode memasuki kembali atmosfer Bumi seperti batu yang dilemparkan ke permukaan air sempat dilakukan dalam pendaratan misi Artemis I pada Desember 2022, saat Orion mendarat tanpa membawa awak. Ketika itu, perisai pelindung panas Orion yang bisa mencegah kapsul terbakar akibat gesekan dengan atmosfer Bumi mengalami kerusakan besar.
Perisai panas Orion itu dirancang mampu menahan lonjakan suhu saat memasuki atmosfer Bumi hingga 2.760 derajat celsius. Perisai panas itu dibuat dari titanium yang dilapisi 186 blok material tahan panas yang disebut Avcoat. Masing-masing blok Avcoat ity memiliki ketebalan 3,8 sentimeter (cm).
Saat Artemis I memasuki atmosfer Bumi, gas bersuhu tinggi yang terperangkap dalam perisai panas mengembang hingga merobek bagian Avcoat yang tertutup arang. Akibatnya, efektivitas perisai panas menurun. Jika Orion saat itu membawa awak, seperti dalam misi Artemis II, maka kondisi itu bisa membahayakan antariksawan yang ada di dalamnya.
Karena itu, dalam misi Artemis II, Orion direncanakan untuk memasuki kembali atmosfer Bumi dengan sudut kedatangan wahana terhadap atmosfer Bumi yang lebih curam dibandingkan rencana semula.
Dengan sudut kedatangan yang lebih curam, maka waktu yang ditempuh wahana saat melalui atmosfer Bumi dengan kecepatan dan suhu tinggi akan lebih singkat. Dengan demikian, potensi kerusakan perisai pelindung dapat dikurangi.
Kesuksesan misi Artemis II akan membuka jalan bagi pendaratan kembali manusia ke Bulan pada akhir 2028 dalam misi Artemis IV.
Selama fase penurunan ketinggian wahana, ketika memasuki atmsofer Bumi, Orion akan diselubungi plasma yang terbakar yang membuat wahana akan diselimuti bola api.
Proses penurunan ketinggian wahana ini akan berlangsung kasar dan penuh gejolak sehingga komunikasi dengan pusat pengendali misi di Bumi harus diputus untuk sementara waktu. Ini juga menjadi momen yang menegangkan karena menentukan hidup dan mati antariksawan.
Hambatan dengan atmosfer Bumi itu akhirnya akan mengurangi kecepatan wahana secara signifikan. Pada ketinggian 8 km dari permukaan Bumi, kecepatan Orion turun hingga hanya 523 km per jam atau 145 m per detik. Di fase ini, tiga parasut penutup bagian depan wahana yang masing-masing memiliki lebar 2,1 m akan mengembang.
Berikutnya, di ketinggian 7,62 km, dua parasut penstabil dengan diameter lebih besar, yaitu sekitar 7 meter, akan ikut mengembang guna menstabilkan wahana. Selanjutnya, parasut utama akan dilepaskan saat Orion ada di ketinggian 2,9 km dan kecepatan turun wahana hanya tinggal 209 km per jam atau 58 m per detik.
Dari ketiga sistem parasut yang dimiliki Orion, sistem parasut utama merupakan yang paling rumit. Pertama, tiga parasut pilot yang masing-masing berdiameter 3,4 m akan terbuka lebih dulu dan menarik tiga parasut utama yang memiliki lebar 35,3 m dan beratnya mencapai 140 kilogram (kg). Parasut ini memiliki panjang tali hingga 81 m yang membuat Orion tergantung di bawahnya.
Kehadiran parasut utama itu akan membuat kecepatan turun wahana saat menyentuh permukaan laut hanya akan mencapai 32 km per jam atau 8,8 m per detik. Peristiwa ini diperkirakan akan berlangsung pada Jumat (10/4) pukul 17.07 waktu San Diego, AS atau Sabtu (11/4) pukul 07.07 WIB.
Setelah pendaratan di atas air itu, tim penyelamat akan datang untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan dengan menggunakan helikopter dari kapal USS John P Murtha milik Angkatan Laut AS.
Sementara tim di atas kapal juga bersiap mendukung penyelamatan ini dan telah melakukan gladi resik hingga 12 kali, termasuk menggunakan kapsul tiruan Orion yang dinamakan Crew Module Test Article.
Setelah semua awak dievakuasi ke darat, maka misi Artemis II pun berakhir. Kesuksesan misi ini akan membuka jalan bagi pendaratan kembali manusia ke Bulan pada akhir 2028 dalam misi Artemis IV.





