Dari Tembok Niaga ke Ruang Seni Kota

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Tembok-tembok tinggi di Kampung Petemesan, Pekojan, selama ini lebih akrab sebagai gudang, pagar pembatas, dan sisa lanskap perdagangan lama Kota Semarang, Jawa Tengah. Deretan tembok yang biasanya hadir sebagai latar bagi lalu lintas barang dan aktivitas ekonomi dalam sepekan terakhir berubah wajah lebih hidup dan berwarna.

 

 

Festival bertema ”Aturen Awuren” menjadi ruang temu beragam aliran. Dalam satu bidang tembok, gaya visual bertumpuk, saling silang, bahkan tampak bertabrakan. Dari pertemuan itu justru lahir kohesi baru, cara lain membaca dinamika kampung kota, Senin (6/4/2026).

Sore itu, Wicaksana (20) bersama Nanda (22) menuntaskan mural. Karya tersebut terinspirasi dari proyek band mereka, The Java Cats. Kedua anak muda itu menyelesaikan lukisan seekor kucing besar pada dinding sebuah gudang kertas. Figur kucing tersebut menjadi metafora kehidupan kampung kota. 

 

”Ini bagian dari proyek musik juga. Saya mencoba merespons aturan awuren lewat lapisan visual yang saling menimpa, seperti dinamika kampung kota itu sendiri,” ujar Wicaksana.

 

Di samping karya tersebut, perupa Semarang, Rudy Murdock, menorehkan kalimat ”No Art No Future” di bagian atas muralnya. Pernyataan sederhana itu menegaskan bahwa tanpa seni, dunia akan kehilangan denyutnya. Menurut Rudy, kota tanpa seni hanya akan menjadi kumpulan bangunan beton yang dingin tanpa empati. Masa depan akan berjalan repetitif dan mekanis.

Kehadiran mural di gang-gang sempit tersebut menginterupsi wajah Pekojan sebagai simpul perdagangan. Visual yang muncul menghadirkan kembali ruang bersama yang selama ini lebih banyak dikuasai kepentingan bisnis.

 

Para seniman memanfaatkan beragam medium. Sebagian mengolah badan mobil, sementara lainnya menggarap tembok-tembok tinggi yang mendominasi lanskap Petemesan. Skala bidang yang besar membuka ruang eksplorasi visual yang lebih berani sekaligus menegaskan karakter kawasan yang keras dan industrial.

Rangga Dwi Saputra, warga setempat, menyebut kampungnya kini memiliki wajah baru. ”Sebagai orang yang besar di sini, saya senang. Kampung jadi terasa berbeda,” ujarnya.

 

Rangga menuturkan, Petemesan memiliki jejak sejarah panjang dari kandang kuda pada masa kolonial, berkembang menjadi kawasan pergudangan, hingga menjadi permukiman padat. Sisa fungsi tersebut masih tampak pada bangunan lama yang bertahan.

Mural dalam konteks ini tidak lagi terkurung di ruang pamer. Mural hadir di gang, pada dinding yang dilalui warga setiap hari, dan menyatu dengan rutinitas. Kondisi tersebut membuka kemungkinan baru, pengakuan Petemesan sebagai kampung budaya di tengah kota.

Mini Muralfest Petemesan tidak sekadar menjadi peristiwa seni. Kegiatan tersebut menegaskan bahwa di tengah arus perdagangan yang terus bergerak, ruang ekspresi dan identitas warga tetap dapat tumbuh, bahkan dari dinding-dinding yang selama ini hanya dianggap sebagai batas.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri Keuangan Indonesia Bantah Proyeksi Bank Dunia, Yakin Ekonomi RI 2026 Tembus di Atas Target
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
BRI Tebar Dividen Tunai Rp52,1 Triliun, Setara Rp34 per Saham
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bukan Ukur Rumah! Klarifikasi Pihak Okin Bikin Publik Kaget
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Insanul Fahmi Diperiksa Terkait Laporan Wardatina Mawa
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Nelangsa Ibu di Karawang: Korban KDRT, Tertular Sifilis, Anak Dicabuli Suami
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.