WASHINGTON, KOMPAS.TV – Di tengah gencatan senjata yang berada di ambang keruntuhan, JD Vance memimpin langsung misi diplomasi Amerika Serikat untuk bernegosiasi dengan Iran.
Sebelum berangkat, ia melontarkan peringatan tegas: Teheran diminta tidak mempermainkan Amerika dalam proses perundingan yang menentukan arah konflik.
“Kami terbuka untuk negosiasi dengan itikad baik. Tapi jika mereka mencoba memainkan kami, maka tim negosiasi tidak akan merespons dengan baik,” kata Vance saat bertolak menuju Pakistan, Jumat (10/4/2026), dikutip dari Associated Press.
Baca Juga: Mesir dan Irak Bertemu di Baghdad, Bahas Gencatan Senjata AS-Iran dan Stabilitas Timur Tengah
Vance dijadwalkan memimpin pembicaraan dengan Iran di Islamabad, yang menjadi lokasi perundingan yang dimediasi pihak ketiga.
Ia tidak sendiri, melainkan didampingi utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff serta Jared Kushner.
Langkah ini menandai salah satu keterlibatan tingkat tinggi paling signifikan antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa dekade terakhir.
Negosiasi ini berlangsung di tengah situasi yang sangat rapuh. Gencatan senjata antara AS dan Iran yang baru saja disepakati langsung diwarnai perbedaan tajam terkait syarat-syarat utama.
Iran menuntut penghentian konflik di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan, sementara Israel dan AS menilai front tersebut tidak termasuk dalam gencatan senjata.
Perbedaan ini membuat implementasi kesepakatan di lapangan menjadi tidak konsisten.
Selat Hormuz Jadi Titik TekananSalah satu isu paling krusial dalam negosiasi adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Associated Press
- JD Vance Iran AS negosiasi
- gencatan senjata Iran AS terbaru
- perundingan Iran AS Pakistan
- Selat Hormuz konflik 2026
- Trump Iran perang
- diplomasi AS Iran





