Jakarta, tvOnenews.com - Kepala Badan Energi Intenasional (International Energy Agency/IEA) Fatih Birol pada Jumat memperingatkan adanya potensi kekurangan solar dan kerosin atau minyak tanah di Eropa dalam beberapa minggu mendatang jika situasi di Timur Tengah tidak segera stabil.
Pada awal April Birol mengatakan Eropa memiliki persediaan kerosin yang cukup untuk dua bulan apabila pengiriman dihentikan sepenuhnya akibat eskalasi di Timur Tengah.
“Jika situasinya tidak membaik, solar dan kerosin dapat segera menjadi langka di Eropa. Tidak langsung, tetapi dalam beberapa minggu ke depan,” kata Birol dalam wawancara dengan majalah Jerman Der Spiegel.
Kepala IEA tersebut mengingatkan bahwa sebelum konflik di Timur Tengah, Eropa menerima sebagian besar pasokan solar dan kerosin dari kilang di kawasan tersebut, tetapi banyak depot bahan bakar telah kosong dalam beberapa minggu terakhir.
“Jika produksi global solar dan kerosin tidak segera pulih, situasinya bisa menjadi kritis bagi beberapa negara Eropa pada bulan Mei,” tambah Birol.
Mengingat tingginya harga bahan bakar, Jerman sebaiknya mempertimbangkan penerapan batas kecepatan di jalan raya, tambahnya. Ia juga mengatakan bahwa Jerman “melakukan kesalahan strategis dengan menutup pembangkit listrik tenaga nuklirnya.”
“Tetapi begitulah yang terjadi dan membangun pembangkit nuklir besar seperti sebelumnya akan memakan waktu lama dan biaya yang mahal. Sebagai gantinya, Jerman dapat mempertimbangkan penggunaan reaktor modular kecil,” ucap Birol.
Pada tahun 2011 Pemerintah Jerman yang saat itu dipimpin oleh Kanselir Angela Merkel memutuskan untuk menghentikan penggunaan tenaga nuklir sepenuhnya pada tahun 2022, dengan alasan kecelakaan nuklir Fukushima di Jepang.
Pada 2022 hanya tiga pembangkit nuklir yang masih beroperasi, yaitu Isar 2, Neckarwestheim 2, dan Emsland. Operasinya diperpanjang hingga pertengahan April 2023 akibat terhentinya pasokan gas dari Rusia, setelah itu ditutup secara permanen.
Adapun pada Selasa (7/4) malam Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia telah menyetujui gencatan senjata bilateral selama dua minggu dengan Iran.
Sementara itu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (8/4) menyatakan bahwa Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20 persen pasokan global minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair (LNG), akan dibuka kembali.(ant/ree)




