Oleh: Dr. H. HERMAN H. S.Pd., M.Pd.
Dosen Ilmu Administrasi Publik UNM
Momentum Hari ini 10 April 2026 Ulang Tahun Kabupaten Pinrang menjadi refleksi atas perjalanan pembangunan sekaligus arah masa depan. Tagline “Sinergis Tumbuh, Pinrang Tangguh” bukan sekadar slogan simbolik, tetapi merupakan konstruksi normatif yang mencerminkan paradigma pembangunan modern: kolaboratif, inklusif, dan berorientasi ketahanan (resilience). Dalam konteks administrasi publik kontemporer, pembangunan daerah tidak lagi bersifat sektoral dan top-down, melainkan menuntut integrasi lintas aktor, berbasis data, dan berkelanjutan.
Adapun Makna Konseptual Tagline
- Sinergis: Kolaborasi sebagai Fondasi Governance Modern, sebagai Konsep sinergi mencerminkan pendekatan collaborative governance sebagaimana dikemukakan oleh Chris Ansell dan Alison Gash (2008), yaitu keterlibatan aktor publik dan non-publik dalam proses pengambilan keputusan secara kolektif. Sinergi juga diperkuat oleh pandangan Robert Agranoff dan Michael McGuire yang menekankan pentingnya jaringan (network governance) dalam menyelesaikan masalah publik yang kompleks.
Kemudian Dalam konteks Pinrang, sinergi berarti:
• Integrasi kebijakan antar perangkat daerah (OPD)
• Pelibatan masyarakat dan sektor swasta
• Kolaborasi dengan perguruan tinggi sebagai pusat pengetahuan
Maka Dengan demikian, sinergi menjadi prasyarat utama efektivitas kebijakan publik. - Tumbuh: Pembangunan Inklusif dan Berkelanjutan Pertumbuhan (growth) tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi sosial dan lingkungan. Amartya Sen menekankan bahwa pembangunan harus dilihat sebagai perluasan kebebasan (expansion of capabilities), bukan sekadar akumulasi pendapatan. Sementara itu, Joseph Stiglitz mengkritik pertumbuhan yang tidak merata karena dapat memperlebar ketimpangan sosial.
Dalam perspektif ini, “tumbuh” bagi Pinrang mencakup:
• Penguatan sektor unggulan seperti pertanian dan perikanan
• Pemberdayaan UMKM berbasis lokal
• Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. Pertumbuhan yang ideal adalah inklusif, merata, dan berkelanjutan. - Tangguh: Ketahanan sebagai Pilar Masa Depan melalui Konsep ketangguhan (resilience) menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian global. C.S. Holling memperkenalkan resilience sebagai kemampuan sistem untuk bertahan dan beradaptasi terhadap gangguan. Dalam administrasi publik, Mark Moore menekankan bahwa pemerintah harus menciptakan public value melalui kebijakan yang adaptif dan responsif terhadap perubahan. Bupati Pinrang H. Andi Irwan Hamid bersama Wakil Pinrang Sudirman Bungi menekankan bahwa Pinrang, harus memiliki ketangguhan mencakup: • Ketahanan pangan • Ketahanan ekonomi lokal • Ketahanan terhadap bencana dan perubahan iklim Dengan demikian, ketangguhan adalah output dari sinergi dan pertumbuhan yang berkualitas. Maka seluruh komponen harus bersinergi menghadapi Tantangan Pembangunan yang akan datang. Meskipun memiliki potensi besar, Pinrang menghadapi beberapa tantangan strategis:
- Ketergantungan pada sektor primer
Rentan terhadap fluktuasi harga dan perubahan iklim. - Ketimpangan wilayah
Perbedaan akses layanan antara desa dan kota. - Kesenjangan digital (digital divide)
Transformasi digital belum merata. - Populisme kebijakan
Kebijakan jangka pendek yang kurang berkelanjutan, sebagaimana sering terjadi dalam dinamika politik lokal. - Risiko perubahan iklim
Ancaman terhadap sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi.
Sebagai Akademisi UNM dari Bumi Lasinrang menyuarakan Strategi Solutif Menuju Pinrang Tangguh :
- Ketergantungan pada sektor primer
- Penguatan Collaborative Governance
• Membangun forum multipihak
• Mengintegrasikan sistem e-government
• Mendorong transparansi dan partisipasi publik - Transformasi Ekonomi Berbasis Lokal
• Diversifikasi ekonomi melalui agroindustri
• Hilirisasi produk pertanian
• Penguatan UMKM berbasis digital - Peningkatan Kapasitas SDM
• Pelatihan keterampilan digital
• Pendidikan vokasi berbasis kebutuhan daerah
• Kolaborasi dengan perguruan tinggi - Pembangunan Berbasis Ketahanan (Resilience-Based Development)
• Mitigasi bencana berbasis komunitas
• Penguatan ketahanan pangan lokal
• Adaptasi terhadap perubahan iklim - Reformasi Kebijakan Berbasis Evidence untuk Menghindari populisme dengan pendekatan berbasis data, sejalan dengan gagasan evidence-based policy yang banyak dikembangkan dalam studi kebijakan publik modern. 6. Penguatan Riset di sektor kebijakan.
Maka sebagai Sintesis dan Penutup dari Tagline “Sinergis Tumbuh, Pinrang Tangguh” menurut Herman Dody dapat dipahami sebagai model pembangunan:
Sinergi → Pertumbuhan Inklusif → Ketangguhan Daerah. Sinergi menjadi input utama, pertumbuhan sebagai proses, dan ketangguhan sebagai output. Model ini sejalan dengan prinsip good governance, sustainable development, dan public value creation.
Dengan menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam kebijakan dan praktik pemerintahan, Pinrang tidak hanya mampu tumbuh secara ekonomi, tetapi juga menjadi daerah yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan menuju Indonesia Emas 2045.





