Kisah Persahabatan RA Kartini dan Rosa Abendanon, Jejak Sisterhood yang Memantik Emansipasi Wanita

grid.id
5 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Persahabatan antar perempuan atau sisterhood kerap menjadi fondasi kuat dalam mendorong perubahan sosial, termasuk dalam perjuangan emansipasi. Hal ini tercermin dari hubungan erat antara Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dan sahabat penanya dari Belanda, Rosa Abendanon.

Kedekatan keduanya tidak hanya sebatas pertukaran surat, tetapi juga menjadi salah satu pemantik lahirnya gagasan besar tentang kesetaraan perempuan.

Dukungan Sahabat di Tengah Keterbatasan

Pada akhir abad ke-19, posisi perempuan masih berada di bawah dominasi laki-laki, terutama dalam hal akses pendidikan. Kartini, yang lahir pada 21 April 1879 sebagai putri Bupati Jepara, menjadi sosok yang berani menentang norma tersebut. Ia memiliki pandangan progresif dan bercita-cita memperoleh pendidikan setinggi mungkin, bahkan hingga ke Belanda.

Namun, realitas berkata lain. Kartini harus mengakhiri pendidikannya di usia 12 tahun dan menjalani pernikahan, sesuai dengan tradisi saat itu. Meski demikian, semangat belajarnya tidak padam.

Dukungan dari sahabat-sahabat penanya di Eropa, termasuk Rosa Abendanon, menjadi penyemangat penting dalam perjalanan intelektualnya.

Rosa dikenal sebagai salah satu sosok yang memberikan dukungan moral kepada Kartini. Bahkan, ketika rencana Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda batal, sahabat-sahabatnya di Negeri Kincir Angin turut merasakan kekecewaan mendalam.

Bagi mereka, Kartini adalah representasi perempuan pribumi dengan pemikiran maju.

Surat-Surat yang Mengubah Sejarah

Perjuangan Kartini tidak berhenti setelah menikah. Ia tetap aktif menyuarakan pemikirannya melalui tulisan dan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa.

Gagasan-gagasannya tentang pendidikan, kebebasan, dan kesetaraan perempuan banyak dimuat dalam majalah Belanda, De Hollandsche Lelie.

 

Kumpulan surat Kartini kemudian dihimpun dan diterbitkan oleh Jacques Henrij Abendanon, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku tersebut pertama kali terbit dengan judul Door Duisternis tot Licht.

Di Indonesia, karya ini dikenal luas dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1922. Buku ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia.

Warisan Sisterhood dalam Emansipasi

Kisah persahabatan Kartini dan Rosa Abendanon menunjukkan bahwa solidaritas perempuan mampu melampaui batas geografis dan budaya. Dukungan emosional dan intelektual dari sahabat-sahabatnya di Eropa menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat perjuangan Kartini.

Lebih dari sekadar hubungan personal, persahabatan ini membuktikan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kolaborasi dan saling dukung antarperempuan. Hingga kini, semangat sisterhood yang diwariskan Kartini tetap relevan dalam mendorong kesetaraan gender di berbagai belahan dunia. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Halalal Bihalal Divisi 2 Kostrad, Berikan Kejutan Wartawan Senior Kota Batu Terjun Bebas Bersama
• 23 jam lalurealita.co
thumb
Wujudkan Lingkungan Asri, SDN 002 Bintan Pesisir dan Komunitas Bintan Eco Lestari Gelar Aksi Bersih Pantai
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
BPJS Ketenagakerjaan Sidoarjo Koordinasikan Optimalisasi Pelaksanaan Surat Edaran Bupati 
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Wamenhaj: Skema War Ticket untuk Jamaah yang Punya Kemampuan Finansial
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
Preman di Tanah Abang Palak Tukang Bubur Rp 300 Ribu, Alasannya Jatah Keamanan
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.