PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat 15 perusahaan berada dalam antrean pencatatan saham atau initial public offering (IPO) hingga Jumat, 10 April 2026. Sementara terdapat satu emiten pecah telur mencatatkan sahamnya di pasar modal dengan dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp0,30 triliun.
Berdasarkan data pipeline saham BEI, mayoritas calon emiten berasal dari sektor healthcare yang menyumbang porsi terbesar yakni sekitar 26,7% dari total perusahaan dalam antrean IPO.
Sektor consumer non-cyclicals menyusul dengan kontribusi 20%, sementara consumer cyclicals, infrastructures, dan technology masing-masing menyumbang 13,3%. Adapun sektor energy dan financials memiliki porsi lebih kecil, masing-masing sekitar 6,7%.
Mengacu pada klasifikasi aset perusahaan berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan melalui POJK Nomor 53/POJK.04/2017, perusahaan dalam pipeline IPO didominasi oleh emiten beraset besar.
Rinciannya meliputi empat perusahaan aset skala menengah (aset Rp50 miliar–Rp250 miliar) dan 12perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp250 miliar).
Berdasarkan sektornya, empat perusahaan healthcare, tiga perusahaan consumer non-cyclicals, dua perusahaan consumer cyclicals, dua perusahaan infrastructures, dua perusahaan technology, satu perusahaan energy, satu perusahaan financials.
Sementara tidak terdapat perusahaan dari sektor basic materials, industrials, properties & real estate, serta transportation & logistic.
Baca Juga: BEI Desak 9 Emiten HSC Termasuk BREN Hingga DSSA Segera Benahi Struktur Kepemilikan Saham
Baca Juga: BEI Aktifkan SPPA, Perkuat Infrastruktur Pasar Uang
Sebelumnya BEI bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut masih terdapat 13 perusahaan yang antre untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa jumlah tersebut tidak termasuk PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) yang resmi melantai di bursa pada hari ini.
“Di daftar kami masih ada sekitar 13 perusahaan. Sebelumnya ada 14, tetapi yang satu (WBSA) sudah tercatat, jadi tersisa 13,” ujar Nyoman di BEI, Jumat (10/4/2026).





