Penguatan Transaksi Mata Uang Lokal, Pemerintah Targetkan Perluasan Partisipasi BUMN

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Ricardo Julio

TVRINews, Jakarta

Struktur perdagangan Indonesia saat ini menawarkan potensi besar untuk memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Hal ini didukung oleh fakta bahwa mayoritas mitra dagang utama Indonesia merupakan negara-negara dengan kekuatan ekonomi non-dolar, yang berkontribusi pada surplus perdagangan konsisten mencapai USD1,27 miliar pada Februari 2026.

Dalam agenda Bank of China Multilateral Business Dialogue di Jakarta, Jumat, 10 April 2026, pemerintah menyoroti peran strategis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang partisipasinya kini mencapai 10 persen hingga 19 persen dari total transaksi LCT. Angka ini menunjukkan ruang ekspansi yang masih sangat terbuka luas bagi perusahaan plat merah.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, yang hadir mewakili Menko Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa kerangka LCT merupakan upaya diversifikasi pembayaran bilateral sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi,” tutur Ferry Irawan.

Sejak diluncurkan pada 2018, pemanfaatan LCT telah merambah sektor-sektor krusial seperti manufaktur, transportasi, hingga perdagangan dan jasa. Hingga tahun 2025, Indonesia telah mengimplementasikan kerja sama ini dengan enam mitra utama, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Data awal tahun 2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Pada periode Januari hingga Februari 2026, nilai transaksi LCT telah menyentuh angka USD8,45 miliar, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD3,21 miliar.

“Transaksi LCT telah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam nilai, partisipasi, dan adopsi pasar. Pada Januari–Februari 2026, nilai transaksi mencapai sekitar USD8,45 miliar, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar USD3,21 miliar pada. Pertumbuhan ini juga didukung peningkatan jumlah pengguna yang mencapai 14.621 pada Februari 2026, dengan rata-rata 16.030 pengguna per bulan, jauh di atas rata-rata bulanan tahun 2025 sebesar 9.720 pengguna,” jelas Ferry.

Guna mengoptimalkan skema ini, Pemerintah Indonesia telah membentuk Gugus Tugas LCT Nasional yang melibatkan 10 Kementerian dan Lembaga. Fokus utamanya adalah memperkuat koordinasi kebijakan dan mempercepat adopsi transaksi, khususnya untuk menekan biaya transaksi ekspor-impor.

Ferry menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem ekonomi yang lebih mandiri.

“Pengembangan LCT merupakan langkah konkret dan strategis menuju peningkatan efisiensi, pengurangan kerentanan eksternal, dan penguatan kerja sama keuangan multilateral. Melalui kolaborasi berkelanjutan antara Pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku bisnis, kita dapat membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh, terintegrasi, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bahlil Angkat Bicara soal Rencana Inpex Pasok LPG ke Indonesia
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
PLN Lakukan Pemeliharaan Bay Kapasitor di GI 150kV Sidoarjo, Pastikan Listrik Tetap Andal
• 15 jam lalurealita.co
thumb
Polisi Selidiki Kasus Bayi Nyaris Dibawa Orang di RSHS Bandung
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Soal Isu Indonesia akan Kaos, Seskab Teddy Bilang Begini
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Menteri Dody Tegaskan WFH ASN Tidak Berlaku di Kementerian PU karena Tugas Lapangan dan Penanganan Bencana
• 5 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.