Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman, meminta praktik jual beli kendaraan tanpa dokumen kepemilikan lengkap harus dihentikan.
Di sisi lain, kinerja pembiayaan kendaraan bermotor masih menunjukkan kontribusi besar dalam industri multifinance. Hingga Februari 2026, pembiayaan mobil baru tercatat mencapai Rp 143,28 triliun atau 26,47 persen dari total penyaluran industri, sementara pembiayaan mobil bekas mencapai Rp 88,36 triliun atau 16,32 persen.
OJK juga melihat pembiayaan mobil bekas terus diminati masyarakat, tak hanya karena harga yang lebih terjangkau, tetapi juga karena skema pembiayaan yang relatif fleksibel.
"Pembiayaan otomotif masih menjadi salah satu kontributor terbesar dalam pembiayaan industri multifinance, termasuk pembiayaan mobil bekas yang memberikan skema pembiayaan yang relatif lebih terjangkau bagi masyarakat," lanjutnya.
Dalam menghadapi maraknya praktik STNK only, kata Agusman, OJK bakal memperkuat pengawasan serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar transaksi pembiayaan kendaraan dilakukan melalui jalur resmi.
"Upaya pengawasan dan edukasi kepada masyarakat juga terus diperkuat agar transaksi pembiayaan pembelian kendaraan dilakukan melalui jalur resmi dengan dokumen yang sah dan lengkap," terang dia.
Industri Multifinance Diproyeksi Bakal Tetap Tumbuh
Berdasarkan data OJK, struktur pembiayaan multifinance per Februari 2026 masih didominasi oleh pembiayaan multiguna. Nilainya mencapai Rp 257,17 triliun atau 50,22 persen dari total pembiayaan, dengan pertumbuhan sebesar 1,28 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara itu, pembiayaan investasi tercatat sebesar Rp 167,92 triliun dengan porsi 32,79 persen, namun mengalami kontraksi 2,89 persen yoy. Pembiayaan modal kerja menunjukkan pertumbuhan paling tinggi, yakni 8,31 persen yoy menjadi Rp 54,63 triliun dengan porsi 10,67 persen.
OJK memproyeksi pembiayaan multiguna masih akan menjadi tulang punggung industri pada 2026, seiring tingginya permintaan masyarakat terhadap pembiayaan konsumtif yang fleksibel.
Di sisi lain, peluang bisnis baru di sektor multifinance dinilai terus terbuka, terutama melalui diversifikasi produk pembiayaan di luar sektor otomotif selama tetap sejalan dengan ketentuan yang berlaku.
Agusman mengatakan pengembangan sumber pertumbuhan baru menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan industri. Diversifikasi pembiayaan dinilai bisa menjadi strategi untuk memperluas basis bisnis dan mengurangi ketergantungan pada sektor tertentu.
Menurutnya, Industri multifinance mesti memperkuat prinsip kehati-hatian melalui analisis kredit yang lebih komprehensif, pengelolaan portofolio yang prudent, serta sistem monitoring yang kuat guna menahan rasio pembiayaan bermasalah (NPF).
"Industri multifinance diperkirakan tetap tumbuh positif, yang didukung antara lain dinamika konsolidasi dan investasi di sektor ini," tutur Agusman.





