Flores Timur: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah pengungsi akibat gempa bumi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sebanyak 1.131 orang. Para pengungsi saat ini dalam penanganan tim petugas gabungan daerah setempat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan sejumlah desa mengalami dampak signifikan akibat getaran gempa tektonik tersebut. Desa-desa itu meliputi Desa Terong, Lamahala Jaya, Dawata, Karing Lamalouk, Waiwerang, Ipi Ebang di Kecamatan Adonara, serta Desa Motonwutun dan Watobuku di Kecamatan Solor Timur.
BNPB mengonfirmasi data terbaru yang diterima hingga pukul 10.55 WIB. Sebanyak 238 unit rumah warga di desa-desa tersebut mengalami kerusakan ringan hingga berat. Selain itu, tiga rumah ibadah, empat fasilitas pendidikan, dan dua fasilitas umum juga terdampak.
"Sepuluh orang mengalami luka ringan dari warga terdampak. Terdapat 285 keluarga atau 1.313 jiwa pengungsi mandiri. Perkembangan informasi terbaru akan disampaikan secara berkala," kata Abdul Muhari di Jakarta seperti dilansir Antara, Sabtu, 11 April 2026.
Abdul memastikan penanganan lanjutan masih berlangsung oleh tim petugas gabungan. Tim terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, hingga petugas dinas teknis terkait Kabupaten Flores Timur dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Baca Juga :
Bengkulu Utara Diguncang Gempa, Waspada Susulan
"BPBD sudah mendirikan tenda pengungsi dan tenda keluarga di beberapa titik lokasi yang mudah dijangkau masyarakat dan dipastikan aman dari potensi bencana susulan maupun jenis bencana lain," cetus Abdul Muhari.
Secara fungsi, tenda pengungsi ukuran 6x12 meter itu juga dimanfaatkan untuk pos layanan kesehatan dan posko darurat sementara. Namun, BNPB melaporkan hingga hari ini tidak ada lokasi atau tenda pengungsian terpusat.
Berdasarkan data yang diterima, warga terdampak saat ini lebih memilih mendirikan tenda mandiri di dekat rumah. Sebagian warga juga mengungsi di rumah kerabat. Pada malam hari, sejumlah warga memilih tidur di tenda di dekat rumah demi keamanan dan keselamatan karena gempa susulan masih terjadi.
Ilustrasi Medcom.id
"Tenda pengungsi dan tenda keluarga saat ini menjadi kebutuhan mendesak. Stok tenda sebelumnya sudah dipakai untuk penanganan darurat bencana erupsi Gunungapi Lewotobi Laki-laki. BPBD Provinsi NTT dan BNPB saat ini sedang mendistribusikan kebutuhan tenda, logistik, serta peralatan lain yang dibutuhkan di sana," kata Abdul Muhari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya melaporkan gempa berkekuatan magnitudo 4,7 terjadi pada Rabu, 8 April 2026, dini hari. Gempa berada sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka dengan pusat gempa di darat pada kedalaman lima kilometer. Guncangan dirasakan cukup kuat selama dua hingga empat detik oleh warga di wilayah terdampak.
BMKG mencatat hasil pemantauan sistem sensor getaran menunjukkan adanya 48 aktivitas gempa bumi susulan. Hingga saat ini, gempa susulan masih dirasakan oleh warga di pesisir Pulau Adonara.




