Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 1.313 warga mengungsi akibat gempa bumi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dan kini dalam penanganan petugas gabungan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan gempa berdampak signifikan di sejumlah desa di Kecamatan Adonara dan Solor Timur.
"10 orang mengalami luka ringan dari warga terdampak 285 keluarga atau 1.313 jiwa pengungsi mandiri. Perkembangan informasi terbaru akan disampaikan secara berkala," kata Abdul di Jakarta, Sabtu (11/4).
Ratusan Rumah dan Fasilitas RusakBNPB mencatat sebanyak 238 unit rumah warga mengalami kerusakan dari ringan hingga berat akibat gempa tektonik tersebut.
Selain itu, tiga rumah ibadah, empat fasilitas pendidikan, dan dua fasilitas umum juga terdampak.
Gempa berkekuatan magnitudo 4,7 itu terjadi pada Rabu (8/4) dini hari dengan pusat gempa di darat sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka pada kedalaman lima kilometer.
Guncangan dirasakan warga selama dua hingga empat detik dan diikuti 48 kali gempa susulan yang masih terjadi hingga saat ini.
Penanganan dan Kebutuhan MendesakAbdul memastikan penanganan terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, serta dinas terkait di tingkat kabupaten dan provinsi.
"BPBD sudah mendirikan tenda pengungsi dan tenda keluarga di beberapa titik lokasi yang mudah dijangkau masyarakat dan dipastikan aman dari potensi bencana susulan maupun jenis bencana yang lain," ujarnya.
Ia menjelaskan sebagian besar warga memilih mengungsi secara mandiri di sekitar rumah atau ke rumah kerabat karena khawatir gempa susulan.
Kebutuhan mendesak saat ini berupa tenda pengungsi dan logistik karena stok sebelumnya telah digunakan untuk penanganan erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
BNPB bersama BPBD Provinsi NTT terus mendistribusikan bantuan guna memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi.




