Mengajak, Bukan Menuntut: Saatnya Membumikan Sustainability

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Oleh : Wika Harisa Putri (Akademisi Universitas Janabadra, Sustainability Expert PT Surveyor Indonesia (Persero).

REPUBLIKA.CO.ID, Diskursus keberlanjutan hari ini semakin padat oleh standar, metrik, dan kerangka kerja yang kompleks. ESG, net zero, hingga berbagai pedoman pelaporan global diproduksi dan direproduksi sebagai prasyarat kemajuan. Namun, di balik intensifikasi tersebut, muncul pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah pendekatan ini benar-benar memperluas keterlibatan, atau justru menyempitkannya?

Kecenderungan yang terjadi menunjukkan hal yang perlu diwaspadai. Keberlanjutan semakin dikonstruksi sebagai domain teknokratis, dipahami oleh segelintir pihak, dijalankan oleh institusi, dan diukur melalui instrumen yang tidak selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi demikian, individu tidak lagi diposisikan sebagai bagian aktif dari perubahan, melainkan sebagai pihak yang diharapkan mengikuti arah yang telah ditentukan.

Baca Juga
  • Pendekatan ESG Tingkatkan Dampak Program Filantropi
  • WTJJ Integrasikan ESG di Sektor Infrastruktur Air
  • PT Surveyor Indonesia Perkuat ESG Assurance untuk Dorong Kredibilitas dan Akses Pembiayaan Hijau

Di titik inilah pendekatan yang terlalu berat berpotensi menjadi kontraproduktif. Alih-alih mendorong partisipasi, ia dapat memunculkan kelelahan kognitif dan jarak psikologis. Keberlanjutan kemudian hadir sebagai sesuatu yang “benar”, tetapi tidak selalu “terjangkau”.

Karena itu, diperlukan koreksi dalam cara kita mengajak. Salah satu pendekatan yang layak dipertimbangkan adalah eco-efficiency persuasive movement, sebuah cara membangun keterlibatan melalui ajakan yang rasional, kontekstual, dan tidak membebani. Pendekatan ini tidak mengedepankan tuntutan, melainkan menunjukkan bahwa tindakan yang lebih efisien secara lingkungan juga selaras dengan kepentingan praktis individu.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Pendekatan ini juga sejalan dengan cara pandang dalam Stakeholder Theory yang dipopulerkan oleh Freeman (1984), yang menempatkan keberlanjutan sebagai tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya institusi atau korporasi, tetapi juga individu sebagai bagian aktif dari sistem. Dalam kerangka ini, keberlanjutan tidak berhenti pada level kebijakan, tetapi perlu dihidupi dalam praktik keseharian oleh mereka yang terlibat di dalamnya.

Lebih jauh, dalam 5–10 tahun ke depan, lanskap sosial dan ekonomi akan semakin dipengaruhi oleh generasi yang memiliki preferensi berbeda dalam merespons isu publik. Generasi ini cenderung tidak merespons pendekatan yang berbasis tekanan atau kewajiban semata.

Sebaliknya, mereka lebih tergerak ketika memiliki ruang untuk memilih, merasa mampu menjalankan tindakan tersebut, dan melihat keterkaitan antara pilihan pribadi dengan makna yang lebih luas, seperti yang digambarkan secara jelas dalam Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan (1985). Tanpa pendekatan yang memahami dimensi tersebut, keberlanjutan berisiko kehilangan relevansinya di mata generasi yang justru akan mendominasi arah masa depan.

Di sinilah pentingnya menghadirkan keberlanjutan dalam bentuk yang lebih dapat dijalani. Efisiensi tidak hanya menjadi strategi teknis, tetapi juga strategi keterlibatan.

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seskab Teddy Pastikan Tak Ada Penarikan Pasukan TNI di UNIFIL
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Penjualan Motor Maret 2026 Melandai, Mirip Trennya di 2025
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Waka Banggar DPR Tegaskan APBN Tetap Kuat Jaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Tekanan Global
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Yusril soal Keberadaan Riza Chalid: Kami Dengar Ada di Malaysia
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Ini Salah Satu Sosok yang Terjaring OTT KPK di Tulungagung, PDIP Buka Suara
• 2 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.