Bisnis.com, JAKARTA — Tingginya porsi biaya transportasi dalam struktur logistik nasional menempatkan efisiensi, khususnya angkutan darat, sebagai kunci utama penurunan ongkos logistik. Seluruh pemangku kepentingan mendorong beragam jalan keluar untuk mengatasi masalah ini.
Plt. Asisten Deputi Pengembangan Logistik Kemenko Perekonomian Ekko Harjanto mengungkapkan, biaya transportasi menyumbang setidaknya 62% dari total biaya logistik nasional terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka ini jauh lebih besar dibanding biaya pergudangan dan persediaan sebesar 22% serta administrasi yang sekitar 16%. Terlebih, angkutan darat (selain rel) menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi sekitar 30% terhadap total biaya transportasi.
“Di Indonesia, transportasi darat biayanya cukup tinggi, termasuk distribusi jarak jauh dan volume besar,” ujarnya dalam Bisnis Indonesia Forum (BIF) x Fuso di JIEXPO Kemayoran, Sabtu (11/4/2026).
Seiring dengan hal tersebut, beban biaya transportasi berangkat dari rentannya angkutan logistik darat terhadap hambatan berupa kemacetan.
Utamanya, pada momen-momen tertentu yang berdampak pada penutupan jalan dan kemacetan.
Baca Juga
- Transportasi Pendukung Industri Cold Chain Prospektif
- Prabowo akan Resmikan Pabrik EV VKTR di Magelang, Dorong Akselerasi Transportasi Listrik Nasional
- Kredit Infrastruktur Bank Mandiri Tumbuh 30,8%, Transportasi Dominan
Misalnya pada masa angkutan Lebaran dan Nataru, maupun acara-acara tertentu di masing-masing daerah yang memunculkan hambatan tersebut.
“Cukup banyak rintangan bagi transportasi darat di Indonesia. Bagaimana cara atasinya? Harus efisiensi di angkutan darat,” tambahnya.
Dengan kata lain, harus ada integrasi antarmoda dalam pengangkutan barang, khususnya antara darat dengan laut untuk jarak yang jauh. Misalnya pengangkutan barang Jakarta—Surabaya dapat menggunakan kapal laut maupun kereta api.
Ketergantungan pada angkutan darat membuat pelaku usaha dituntut menjaga operasional armada tetap optimal tanpa gangguan.
Chief Executive Officer PT Tako Anugerah Koporasi Melky Tako mengatakan, efisiensi logistik pada praktiknya sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menghindari downtime kendaraan.
“Kami berburu dengan waktu. Kami tidak boleh ada downtime kendaraan,” ujarnya.
Menurutnya, perawatan berkala menjadi faktor krusial agar operasional tetap berjalan tanpa hambatan. Perusahaan pun harus cermat mengatur jadwal perawatan untuk meminimalkan waktu henti.
Dia mencontohkan, perawatan kendaraan dilakukan saat aktivitas operasional menurun, seperti akhir pekan atau hari libur. Strategi ini memungkinkan armada tetap siap ketika permintaan meningkat.
Di sisi lain, faktor sumber daya manusia menjadi tantangan yang tidak kalah krusial. Melky menilai ketersediaan pengemudi yang kompeten menjadi salah satu bottleneck dalam operasional logistik.
Dia menekankan bahwa pengemudi harus dipandang sebagai aset perusahaan yang perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Pelatihan berkendara, pemahaman keselamatan kerja, hingga efisiensi bahan bakar menjadi bagian dari upaya peningkatan kompetensi.
Dukungan dari sisi pabrikan juga menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi tersebut. Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (Fuso) Aji Jaya mengatakan pihaknya mendorong efisiensi melalui inovasi produk dan layanan purnajual.
Salah satu fokus utama adalah memastikan kendaraan tetap beroperasi tanpa gangguan melalui layanan bengkel siaga 24 jam.
“Mobil tidak boleh berhenti bekerja, karena customer harus terima tepat waktu,” ujarnya.
Selain itu, pengembangan teknologi juga dilakukan melalui sistem telematika yang memungkinkan perusahaan memantau operasional kendaraan secara real time. Sistem ini dapat mengukur perilaku pengemudi, konsumsi bahan bakar, hingga kebutuhan perawatan kendaraan.
Pemanfaatan teknologi tersebut memberi visibilitas lebih tinggi terhadap operasional, sehingga perusahaan dapat mengidentifikasi potensi inefisiensi sejak dini.
Senada, Aji Jaya menyebut pelatihan pengemudi menjadi bagian dari strategi efisiensi. Pengemudi yang terlatih mampu mengoperasikan kendaraan secara optimal, termasuk dalam menjaga konsumsi bahan bakar tetap efisien.
Kombinasi antara kesiapan armada, kualitas pengemudi, dan dukungan sistem menjadi fondasi utama dalam menciptakan efisiensi logistik darat. Tanpa ketiganya, biaya operasional berpotensi meningkat dan menggerus daya saing pelaku usaha.





