JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah pedagang mengeluhkan kenaikan harga plastik dalam beberapa hari terakhir. Lonjakan harga tersebut dinilai menekan keuntungan karena pelaku usaha kecil sulit menaikkan harga jual kepada konsumen.
Salah satu pedagang kue ape, Songlet (40), mengatakan harga plastik mulai meningkat setelah Ramadhan, meski awalnya naik secara bertahap.
"Ya, kalau harga plastik naik, pengeluaran belanja makin gede, tapi keuntungan menipis karena enggak bisa naik harga," tutur Songlet saat ditemui di kawasan Kramat Jati, Sabtu (11/4/2026).
Ia menjelaskan, sulit menaikkan harga karena mayoritas pembelinya merupakan anak sekolah yang membeli dalam jumlah kecil.
Baca juga: Harga Plastik Naik hingga 40 Persen, Pemprov Jakarta Upayakan Stabilisasi
"Sulit kalau mau dinaikin juga, ini kan kue banyak yang beli itu bocah-bocah, tetapi ya beberapa orang gede tapi kan enggak banyak," jelasnya.
Songlet mengaku terpaksa mengurangi margin keuntungan untuk mempertahankan pelanggan. Ia bahkan mencoba menggunakan kertas sebagai pengganti plastik, meski dinilai tidak efektif.
Namun, menurut dia, penggunaan kertas bukan solusi jangka panjang karena hanya cocok untuk pembelian dalam jumlah sedikit.
"Susah juga sih karena sudah bergantung, kalau kertas cuma cukup dua-tiga ape saja, kan kalau orang beli kadang bisa lebih," jelasnya.
Keluhan serupa disampaikan Ario, pedagang kue leker yang juga terdampak kenaikan harga plastik. Ia menyebut harga plastik mengalami lonjakan cukup tinggi.
"Kalau kedampak lumayan ya, apalagi kami dagang masih bergantung sama plastik, ini sekarang naiknya sudah tinggi, awalnya Rp 12.000 naik jadi sekitar Rp 20.000," saat ditemui di Kramat Jati.
Menurut Ario, kenaikan harga plastik turut menekan pendapatan karena sejumlah bahan baku lain juga ikut meningkat.
"Sebenarnya yang naik bukan plastik saja tetapi lainnya juga, tetapi yang paling berasa tetap plastik. Belanja jadi banyak tapi untung tipis," jelasnya.
Baca juga: Di Tengah Lonjakan Harga Plastik, WALHI Usulkan Daun Pisang dan Kertas Jadi Alternatif
Ketua Komunitas Warteg Nusantara Mukroni juga menyebutkan, kenaikan harga plastik berdampak pada penurunan keuntungan pedagang warteg skeitar 10-20 persen.
Menurut dia, kenaikan harga plastik memberatkan pedagang karena mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga makanan.
"Kalau naik terus bisa diganti misalnya dengan eh apa itu, pelepah pisang, apa itu kan proses, Mas. Nah ini tugas pemerintah lah ke depan supaya ketika ada krisis kayak gini sudah mengantisipasi, sudah memitigasi," jelasnya.





