Sejumlah akun Instagram pada akhir pekan ini mengunggah potongan video ceramah Muhammad Jusuf Kalla yang disertai narasi menuduh Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI tersebut memfitnah serta menistakan ajaran Kekristenan. Tuduhan itu muncul setelah JK dalam ceramahnya menyebut bahwa kedua pihak dalam konflik Poso dan Ambon pernah menggunakan istilah “mati syahid”.
Namun setelah ditelusuri, narasi tersebut dinilai muncul akibat pemotongan konteks secara signifikan dari ceramah yang disampaikan JK. Juru bicara JK, Husain Abdullah, menegaskan bahwa potongan video yang beredar tidak menggambarkan keseluruhan isi ceramah yang disampaikan di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Kamis (5/3/2026).
Potongan Pernyataan yang ViralDalam video yang beredar, JK terlihat mengatakan:
“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti.”
Sejumlah akun media sosial kemudian menarasikan bahwa pernyataan tersebut tidak benar karena dalam ajaran Kristen tidak dikenal konsep “mati syahid untuk membunuh musuh”, serta mengutip ajaran “kasihilah musuhmu”.
Klarifikasi: Penjelasan Fakta Konflik, Bukan TeologiHusain Abdullah menjelaskan bahwa JK tidak sedang memberikan khotbah tentang ajaran teologi Kristen maupun Islam. Menurutnya, JK hanya menjelaskan realitas sosiologis yang terjadi saat konflik bernuansa SARA di Poso dan Ambon pada awal era reformasi.
“Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah. Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun kelompok Kristen sama-sama menyerukan ‘perang suci’ dan mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid. Itu fakta sejarah, bukan pendapat pribadi Pak JK,” ujar Husain di Jakarta, Sabtu (10/4).
Ia menambahkan, fakta tersebut dapat dikonfirmasi kepada para tokoh yang terlibat dalam proses perundingan damai konflik Poso dan Ambon.
Husain menegaskan bahwa tujuan ceramah JK justru untuk mengkritik dan meluruskan pemahaman keliru yang berkembang di tengah konflik saat itu. JK, kata dia, berupaya menjelaskan kepada kedua pihak bahwa kekerasan yang terjadi tidak dapat dibenarkan sebagai perang suci.
“Pada banyak kesempatan Pak JK menjelaskan bagaimana mengubah pemahaman kedua pihak bahwa yang mereka lakukan bukan perang suci dan tidak akan membawa mereka ke surga, melainkan sebaliknya. Kekerasan yang terjadi sudah melampaui batas kemanusiaan karena membunuh anak-anak, perempuan, dan orang tua,” ujar Husain.
Menurutnya, kritik keras JK terhadap klaim “syahid” atau “martyr” dalam konflik tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kedua pihak bersedia duduk bersama untuk mengakhiri kekerasan.
Baca Juga: Kondisi Ekonomi Makin Tak Pasti, Jusuf Kalla Serahkan Rekomendasi Ekonomi ke Prabowo
Konflik Poso dan Ambon terjadi sekitar 27 tahun lalu dan dikenal sebagai konflik bernuansa SARA yang menelan korban jiwa besar. Dalam kurun kurang dari tiga tahun, sekitar 2.000 orang tewas dalam konflik Poso dan sekitar 5.000 orang meninggal dalam konflik Ambon.
Upaya perdamaian kemudian dilakukan melalui perundingan yang dimediasi JK. Kesepakatan damai dicapai melalui Perundingan Malino I untuk konflik Poso pada 2001 dan Perundingan Malino II untuk konflik Ambon pada 2002. Kedua perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan damai yang dikenal sebagai Deklarasi Malino.
Dalam proses tersebut, JK melibatkan berbagai pihak, mulai dari tokoh agama Islam dan Kristen, panglima lapangan dari kedua kubu yang bertikai, tokoh masyarakat, hingga perwakilan pemerintah. Perundingan itu menjadi salah satu tonggak penting dalam mengakhiri konflik bersenjata di kedua wilayah tersebut.





