Harga Emas Dunia Tembus Rp81 Juta saat AS Laporkan Inflasi Bulan Maret Naik

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Laporan inflasi Amerika Serikat (AS) untuk bulan Maret 2026 memberi angin segar bagi pemilik emas. Harga logam mulia berwarna kuning ini melesat 0,21 persen pada sesi perdagangan Jumat, 10 April 2026. 

Berdasarkan laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS, indeks harga konsumen (CPI) atau inflasi AS naik 0,9 persen atau lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3 persen pada bulan sebelumnya. terbaru yang menunjukkan kenaikan pada Maret 2026. Namun, angka ini masih di bawah proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan sebesar 1 persen sehingga membuka peluang pelonggaran suku bunga oleh bank sentral. 
 
Secara tahunan, inflasi mencapai 3,3 persen atau naik dari 2,4 persen pada bulan sebelumnya, tetapi masih sedikit lebih rendah dari ekspektasi pasar di level 3,4 persen. Sementara itu, inflasi inti (core CPI) yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan hanya naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan.

Baca Juga :
IHSG Sesi I Terbang ke 7.455, Cek 3 Saham Paling Cuan
Harga Minyak Dunia Naik Lagi Tembus US$98 per Barel Gegara Ketegangan Selat Hormuz Memanas

Merespons data tersebut, harga emas dunia langsung melonjak 0,21 persen atau lebih dari US$10 dan mampu mempertahankan penguatannya. Mengutip Kitco News, emas di pasar spot terakhir diperdagangkan di level US$4.775,30 atau setara sekitar Rp81,6 juta (asumsi kurs Rp17.100 per dolar AS) per ons.

Ilustrasi Emas dan Perak
Photo :
  • Mint

Pakar Strategi Investasi Makro di Tanglewood Total Wealth Management, Tom Bruce, mengatakantidak akan terkejut melihat kenaikantajam inflasi AS. Ia menambahkan, Federal Reserve (The Fed) masih memiliki jalan untuk menurunkan suku bunga selama harga inti tetap terkendali yang akan berdampak positif bagi harga emas.

Sejumlah analis mengingatkan investor untuk mencermati level resistensi emas di kisaran US$4.800 per ons. Jika berhasil ditembus, harga emas berpotensi melanjutkan tren kenaikan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Di sisi lain, tekanan inflasi masih dipengaruhi kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik. Laporan menunjukkan indeks bensin melonjak 21,2 persen pada Maret dan menyumbang hampir tiga perempat dari kenaikan inflasi bulanan. Secara keseluruhan, indeks energi naik 10,9 persen dalam sebulan dan 12,5 persen dalam setahun terakhir.

Chief Investment Officer Zaye Capital Markets, Naeem Aslam, mengingatkan bahwa tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat dalam beberapa waktu ke depan. Menurutnya, The Fed kini menghadapi skenario sulit di mana tekanan inflasi meningkat sementara pertumbuhan melambat. 

Baca Juga :
IHSG Berpotensi Mendekat ke Level 7.500, Simak 5 Rekomendasi Saham Potensial Cuan Pilihan Analis
Harga Emas Dunia Melesat Usai Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata
Ahli Ungkap Efek Domino Harga Plastik Meroket Imbas Perang AS-Iran, Konsumen dan Industri Kena Getahnya!

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waduh! Tanpa Disadari, Kenaikan Harga Minyak juga Bikin Perlindungan Finansial Menyusut
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sinyal Inter Milan Cuci Gudang Makin Jelas, Nerazzurri Bidik Duo Bek Tangguh dari Tim Rival demi Peremajaan Skuad
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Laga Persija vs Persebaya di GBK, Polisi Kerahkan 2.730 Personel
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Populer: Fasilitas Energi Arab Saudi Diserang; Prabowo Bahas Minyak Rusia
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Presiden Prabowo Hadiri Pembukaan Munas XVI IPSI di JCC
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.