Fasilitas energi Arab Saudi diserang menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Jumat (10/4). Selain itu, Prabowo bertemu Putin membahas pembelian minyak Rusia. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Sejumlah Fasilitas Energi di Arab Saudi Terkena Serangan, Operasional TergangguSerangan-serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi dilaporkan telah mengganggu operasional vital di sektor produksi minyak dan gas, transportasi, pengilangan, petrokimia, serta sektor listrik. Penargetan fasilitas di Riyadh, Provinsi Timur, dan Kota Industri Yanbu ini memicu kekhawatiran serius akan berkurangnya pasokan global dan memperlambat pemulihan ekonomi, sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan volatilitas di pasar minyak.
Insiden ini secara fundamental merugikan perekonomian dunia, terutama mengingat penipisan persediaan minyak operasional dan darurat yang ada.
Dampak kuantitatif dari serangan ini sangat signifikan. Salah satu stasiun pompa pada pipa East-West Pipeline mengalami gangguan yang menyebabkan hilangnya sekitar 700.000 barel minyak per hari. Selain itu, fasilitas produksi Manifa dan Khurais masing-masing mencatat penurunan produksi minyak sekitar 300.000 barel per hari.
Secara agregat, total penurunan kapasitas produksi minyak Arab Saudi mencapai sekitar 600.000 barel per hari. Selain kerugian material, serangan ini juga merenggut nyawa satu personel keamanan industri dan melukai tujuh lainnya dari perusahaan energi nasional.
Prabowo Akan Bertemu Putin, Mau Bahas Minyak RusiaRencana pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin di Rusia dalam waktu dekat telah dikonfirmasi, mengindikasikan potensi penguatan kerja sama di sektor energi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa kerja sama yang sudah berjalan, seperti proyek kilang antara Rosneft dan Pertamina di Tuban melalui skema B2B, dapat menjadi salah satu fokus pembahasan. Langkah ini strategis di tengah dinamika pasar energi global.
Selain itu, spekulasi mengenai potensi pembelian minyak mentah dari Rusia menjadi sorotan utama. Opsi ini pernah disebutkan Bahlil sebagai alternatif untuk menggantikan sekitar 20 persen pasokan yang biasanya melewati Selat Hormuz, menunjukkan upaya diversifikasi sumber energi Indonesia.
Meskipun pembelian minyak mentah dari Amerika Serikat dilaporkan sudah mulai berjalan, Rusia melalui Duta Besarnya, Sergei Tolchenov, menegaskan kesiapan untuk memasok minyak dan gas kepada negara mitra, bahkan negara-negara yang tidak bersahabat, asalkan ada permintaan resmi dan kesediaan kerja sama jangka panjang.





