Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei dilaporkan masih dalam masa pemulihan setelah mengalami luka serius akibat serangan udara yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa wajah sosok politikus tersebut mengalami cedera berat dan ia juga mengalami luka signifikan pada kaki. Khamenei, meski demikian, dilaporkan tetap aktif menjalankan fungsi kepemimpinan.
Baca Juga: Trump Mau Tarik Pasukan Amerika Serikat di Eropa: Gegara Soal Iran dan Greenland
Ia mengikuti rapat dengan pejabat senior melalui konferensi audio dan tetap terlibat dalam pengambilan keputusan penting, termasuk terkait perang dan negosiasi dengan Amerika Serikat. Kondisi kesehatannya menjadi perhatian besar karena negaranya tengah menghadapi situasi krisis yang sangat serius, yakni negosiasi antara Teheran dan Washington di Islamabad, Pakistan.
Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait detail cedera dari Khamenei. Sejak serangan terjadi dan ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi pada awal bulan lalu, tidak ada foto, video atau rekaman suara yang dirilis ke publik.
Khamenei sendiri diproyeksikan terluka pada 28 Februari. Saat itu adalah hari pertama konflik yang melibatkan serangan dari Israel dan Amerika Serikat ke IRan. Serangan tersebut menewaskan sejumlah anggota keluarganya, termasuk ayahnya, Ali Khamenei.
Khamenei sendiri sebelumnya dilaporkan sebagai “janbaz”, istilah yang digunakan untuk individu yang mengalami luka berat dalam perang. Pernyataan ini memperkuat indikasi bahwa cedera yang dialaminya cukup serius.
Adapun Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth, sebelumnya menyatakan bahwa sang pemimpin baru kemungkinan mengalami luka berat dan cacat permanen. Bahkan, beberapa penilaian intelijen menyebut kemungkinan kehilangan salah satu kaki.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan politikus itu memimpin negara secara efektif di tengah konflik dan negosiasi penting. Meski demikian, laporan menyebut ia tetap tajam secara mental dan masih memegang kendali dalam pengambilan keputusan strategis.
Sebelumnya, Khamenei mengklaim kemenangan final dalam perang melawan Israel dan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak memulai perang, namun akan mempertahankan haknya dan siap merespons jika serangan kembali terjadi.
Khamenei sendiri menyoroti negosiasi yang akan berlangsung di Pakistan, Menurutnya, Iran siap menempuh jalur diplomasi namun ia memperingatkan bahwa pihaknya tetap dalam posisi siaga menyusul kemungkinan serangan dari Tel Aviv dan Washington.
Iran dalam negosiasi itu akan menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang serta pertanggungjawaban atas korban jiwa yang disebabkan oleh serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan tidak akan membiarkan pihak yang menyerang tanpa hukuman.
Baca Juga: Soroti Kasus Netanyahu, Iran Waspada Serangan Amerika Serikat Saat Negosiasi di Pakistan
“Kami tentu tidak akan membiarkan para agresor kriminal yang menyerang negara kami lolos dari hukuman. Kami akan menuntut ganti rugi atas semua kerusakan, serta darah para martir dan yang terluka,” tegas Khamenei.





