Taiwan melaporkan tekanan militer semakin meningkat dari China. 16 pesawat militer negara dilaporkan terdeteksi saat adanya pertemuan dari Presiden China, Xi Jinping dan Ketua Partai Kuomintang (KMT) dan Oposisi Taiwan, Cheng Li-wun.
Wakil Menteri Dewan Urusan China Taiwan, Shen Yu-chung menyebut pendekatan ini sebagai taktik lama dari Beijing. Ia mengatakan bahwa pengoperasian pesawat militer tersebut mencerminkan strategi dua jalur dari China.
Baca Juga: Xi Jinping Dorong Reunifikasi Beijing-Taiwan: Kita Semua Orang China
Beijing menurutnya tengah berupaya sekuat tenaga untuk menguasai wilayah dari Taiwan. Ia melakukannya dengan mengirim pesan damai melalui diplomasi dan menekan melalui kekuatan militer.
"Jadi di satu sisi kita melihat mereka mengirimkan pesan perdamaian, sementara di sisi lain mereka terus menggunakan kekuatan militer untuk menekan Taiwan tanpa henti," katanya.
Sebelumnya, Presiden China, Xi Jinping menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentoleransi kemerdekaan dari Taiwan. Ia menyatakan hal tersebut langsung kepada Ketua Partai Kuomintang (KMT) dan Oposisi Taiwan, Cheng Li-wun, di Balai Besar Rakyat, Beijing.
“Ketika keluarga harmonis, segala sesuatu akan makmur. Kemerdekaan Taiwan adalah penyebab utama yang merusak perdamaian di Selat Taiwan. Kami sama sekali tidak akan mentolerir atau membiarkannya,” tegas Xi.
Xi menekankan bahwa kedua pihaknya merupakan satu bagian dari China. Ia juga menyerukan peningkatan kerja sama dan hubungan lintas selat guna mendorong reunifikasi, yang telah lama menjadi tujuan pemerintah dari Beijing.
“Warga negara di kedua sisi selat semuanya adalah orang dari China. Orang-orang dari satu keluarga yang menginginkan perdamaian, pembangunan, pertukaran, dan kerja sama,” katanya.
Cheng Li-wun diketahui merupakan ketua partai yang menguasai parlemen dari Taiwan. Ia tengah melakukan kunjungan dengan membawa misi damai ke China. Kunjungan ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan militer dari negara itu terhadap Taiwan.
Ia sebelumnya menyatakan bahwa kesetaraan, inklusivitas, dan persatuan harus menjadi dasar hubungan lintas dari Selat Taiwan. Ia merupakan nilai utama dari Sun Yat-sen. Oleh karenanya, ia mengajak adanya rekonsiliasi dari Taiwan dan China. Ia mengajak kedua pihak untuk bekerja sama demi menciptakan stabilitas dan kemakmuran kawasan dari Asia Pasifik.
Baca Juga: China Tutup Wilayah Udara, Ini Respons Kemenhub
Kombinasi tekanan militer dan manuver diplomatik menunjukkan bahwa konflik wilayah tersebut tetap menjadi salah satu titik panas geopolitik global. Selama Beijing dan Taipei tidak bisa menyelesaikan perdebatannya, potensi eskalasi akan terus membayangi kawasan dari Asia-Pasifik.





