China kembali mengkritik kebijakan blokade hingga sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat ke Kuba. Hal ini menyusul potensi krisis akibat kurangnya pasokan energi yang mengalir ke Havana.
Dikutip dari Xinhua, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning mendesak negara tersbeut untuk segera menghentikan blokade, sanksi serta segala bentuk tekanan terhadap Kuba. Ia juga mengajak dunia untuk melakukan hal serupa.
Baca Juga: Lawan Embargo Amerika Serikat, Rusia Janji Tak Akan Tinggalkan Kuba: Mereka Adalah Prioritas
"China bersedia bekerja sama dengan komunitas internasional untuk secara tegas mendukung mereka dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasionalnya, serta menentang campur tangan eksternal," ungkapnya.
Mao Ning menyebut bahwa sejumlah anggota kongres juga telah menyuarakan penolakan terhadap kebijakan keras dari Washington ke Kuba. Hal ini dinilai menunjukkan adanya perbedaan pandangan internal di Amerika Serikat.
China menegaskan komitmennya untuk mendukung Kuba. Menurutnya, negara tersebut memiliki hak untuk menjaga kedaulatan nasional stabilitas politiknya. Beijing juga menolak segala bentuk campur tangan eksternal terhadap urusan domestik dari Kuba.
Sebelumnya, Rusia juga melakukan hal serupa dengan menegaskan tidak akan meninggalkan Kuba. Moskow berkomitmen membantu negara tersebut mengatasi krisis energi akibat embargo dari Amerika Serikat.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov mengatakan pihaknya akan terus memperkuat dukungan, termasuk pasokan energi yang lebih besar ke Havana.
“Saya yakin bahwa peristiwa beberapa minggu terakhir dalam hubungan kita akan membawa kita bergerak maju untuk menemukan solusi bagi masalah-masalah terberat. yang muncul dari blokade ilegal dan sama sekali tidak dapat diterima terhadap pulau itu oleh Amerika Serikat,” kata Ryabkov.
Adapun Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, menyatakan negaranya telah meminta adanya dialog tanpa syarat dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima tuntutan perubahan sistem politik sebagai prasyarat pembicaraan dengan Washington.
Diaz-Canel menekankan bahwa kepemimpinannya merupakan mandat langsung dari Kuba. Ia juga menolak kemungkinan mundur dari jabatan, dengan menyebut bahwa konsep menyerah atau mengundurkan diri tidak sejalan dengan prinsip revolusi yang dianut pemerintahannya.
"Konsep kelompok revolusioner menyerah dan mengundurkan diri bukanlah bagian dari kosakata kami," kata Diaz-Canel.
Hubungan Amerika Serikat dan Kuba diketahui telah lama diwarnai oleh sanksi ekonomi dan embargo yang berlangsung selama puluhan tahun. Pernyataan China ini kembali menyoroti isu tersebut di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Baca Juga: Xi Jinping Dorong Reunifikasi Beijing-Taiwan: Kita Semua Orang China
Dukungan China terhadap mereka juga mencerminkan rivalitas global yang lebih luas antara Beijing dan Washington. Isu ini tidak hanya terkait bilateral, tetapi juga pengaruh global, aliansi politik dan persaingan kekuatan besar di Amerika Latin.





