Pantau - Provinsi Hainan di China terus mengembangkan perdagangan internasional melalui skema Hainan Free Trade Port yang resmi diterapkan sejak 18 Desember 2025 dengan sistem berbeda dari China daratan.
Kebijakan ini digagas oleh Presiden Xi Jinping sejak 2018 dan diperkuat dengan Undang-Undang Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan pada 2021.
Melalui skema tersebut, pemerintah menerapkan prinsip kemudahan masuk barang, pengawasan keluar barang, serta peredaran bebas di dalam wilayah.
Dari total 8.960 jenis barang, sekitar 74 persen mendapatkan tarif impor nol persen, termasuk pembebasan pajak pertambahan nilai dan pajak barang mewah.
Barang yang diproduksi di Hainan dengan nilai tambah minimal 30 persen dapat masuk ke China daratan tanpa bea masuk.
Salah satu perusahaan yang memanfaatkan kebijakan ini adalah Hainan Ausca International Oils and Grains.
Perusahaan tersebut mencatat pengurangan bea masuk hingga sekitar 300 juta RMB serta peningkatan produksi dari 190.000 ton pada 2021 menjadi 1,58 juta ton pada 2025.
Selain itu, Hainan menawarkan tarif pajak penghasilan badan dan individu maksimal 15 persen untuk sektor tertentu guna meningkatkan daya saing.
Hainan juga mengembangkan sektor jasa, khususnya pariwisata medis di Zona Pariwisata Medis Internasional Boao Lecheng yang memiliki lebih dari 30 institusi layanan kesehatan.
Sebanyak 485 jenis obat dan alat kesehatan luar negeri dapat digunakan di kawasan tersebut dengan layanan pemeriksaan kesehatan yang dapat selesai dalam 24 jam.
Pada 2024, kawasan ini menarik lebih dari 410.000 pengunjung medis dari berbagai negara.
Di sektor pariwisata, Hainan menerima sekitar 1,5 juta wisatawan mancanegara pada 2025, meningkat 35,2 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kebijakan bebas visa diberikan kepada warga dari 86 negara, termasuk negara ASEAN dengan izin tinggal hingga 30 hari.
Penjualan bebas bea mencapai 4,53 miliar yuan pada Januari 2026 dengan total 560 ribu kunjungan ke toko duty free.
Meski berkembang pesat, Hainan masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti posisi ekonomi yang masih menengah dalam PDB per kapita serta rendah dalam total PDB nasional.
Selain itu, volume perdagangan luar negeri masih tertinggal dibanding kota besar seperti Guangzhou dan Shanghai, serta infrastruktur dan konektivitas perdagangan yang perlu ditingkatkan.
Hainan dinilai memiliki potensi menjadi penghubung antara China dan Asia Tenggara, namun pengembangan penuh diperkirakan membutuhkan waktu 20 hingga 30 tahun ke depan.




