JAKARTA, KOMPAS-Gletser di berbagai belahan Bumi terus menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Penelitian internasional mengungkapkan bahwa tahun 2025 termasuk di antara tahun-tahun terburuk yang pernah tercatat untuk kehilangan es global. Bahkan, 2026 ini diprediksi jadi tahun terakhir bagi lapisan es di Puncak Jaya, Papua.
Diterbitkan dalam koleksi ”Climate Chronicles” dari Nature Reviews Earth & Environment edisi April 2026, studi ini memberikan penilaian global terbaru tentang perubahan massa gletser atau lapisan es di dunia. Studi yang ditulis Michael Zemp dan para ilmuwan lain anggota World Glacier Monitoring Service (WGMS), ini menunjukkan tren percepatan yang didorong oleh kenaikan suhu.
Temuan tersebut mengungkapkan bahwa gletser di seluruh dunia kehilangan sekitar 408 gigaton es pada 2025, menandai tahun terburuk keenam sejak pencatatan dimulai pada 1975. Dekade terakhir telah menyaksikan percepatan dramatis dalam kehilangan es, dengan kehilangan tahunan hampir empat kali lebih tinggi daripada yang diamati pada akhir abad ke-20.
Penelitian ini dilakukan oleh jaringan WGMS, yang menggabungkan pengamatan lapangan dan data satelit dari seluruh dunia untuk memberikan salah satu penilaian gletser global paling komprehensif hingga saat ini. Para penulis memperingatkan bahwa tingkat kehilangan es yang tinggi secara terus-menerus dapat menyebabkan hilangnya banyak gletser dalam beberapa dekade, dengan dampak berantai pada permukaan laut, ekosistem, dan ketersediaan air tawar.
Peneliti Monash University, Levan Tielidze, dari Monash School of Earth, Atmosphere and Environment dan Securing Antarctica's Environmental Future (SAEF), yang turut dalam studi ini menggarisbawahi skala dan urgensi penurunan gletser yang sedang berlangsung.
“Gletser adalah salah satu indikator perubahan iklim yang paling jelas, dan kita sekarang menyaksikan hilangnya es global yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Tielidze, dalam keterangan tertulis.
Menurut dia, fakta bahwa enam tahun dengan kehilangan es paling ekstrem semuanya terjadi dalam tujuh tahun terakhir. Hal ini menyoroti betapa cepatnya sistem ini berubah. “Perubahan ini tidak hanya membentuk kembali lanskap pegunungan, tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap kenaikan permukaan laut global dan memengaruhi sumber daya air bagi jutaan orang,” kata dia.
Kehilangan massa gletser telah meningkat dari kurang dari 100 gigaton per tahun pada akhir abad ke-20 menjadi sekitar 390 gigaton per tahun selama dekade terakhir.
Studi ini menunjukkan bahwa kehilangan massa gletser telah meningkat dari kurang dari 100 gigaton per tahun pada akhir abad ke-20 menjadi sekitar 390 gigaton per tahun selama dekade terakhir.
Pada 2025, semua 19 wilayah gletser utama di dunia mengalami kehilangan massa bersih untuk tahun keempat berturut-turut. Kehilangan regional terbesar tercatat di daerah-daerah termasuk Amerika Utara bagian Barat dan Eropa Tengah.
Dalam jangka panjang, gletser telah kehilangan hampir 10.000 gigaton es sejak tahun 1975. Hampir 80 persen dari kehilangan tersebut terjadi sejak tahun 2000.
Tielidze mengatakan temuan tersebut menyoroti komitmen jangka panjang terhadap hilangnya gletser dan pentingnya membatasi pemanasan di masa depan. "Bahkan jika suhu global stabil saat ini, sebagian besar massa gletser sudah pasti akan mencair," katanya.
Namun demikian, menurut dia, perubahan suhu Bumi setiap sepersekian derajat itu penting. Oleh karena itu, mengurangi pemanasan akan secara langsung mengurangi hilangnya gletser di masa depan dan dampaknya.
Serial Artikel
Ke Mont Blanc Sebelum Lenyap
Fenomena ”last-chance tourism” membuat Mont Blanc kini semakin ramai. Wisatawan datang untuk melihat gletser sebelum sepenuhnya lenyap.
Laporan sebelumnya oleh peneliti Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, gletser atau lapisan es di Puncak Jaya di jajaran Pegunungan Sudirman terancam lenyap. Tim BMKG telah melakukan survei lapangan pada 11 - 15 November 2024 dan menemukan penurunan signifikan, baik luasan maupun ketebalan es yang ada di Puncak Sudirman, bagian dari Pegunungan Jayawijaya.
Luasan tutupan es di Puncak Jaya, bagian Pegunungan Sudirman pada tahun 2024 menyusut 0,11-0,16 kilometer persegi dari sebelumnya 0,23 kilometer persegi pada 2022.
Koordinator Bidang Standardisasi Instrumen Klimatologi BMKG Donaldi Sukma Permana, saat itu mengatakan, luasan tutupan es di Puncak Jaya, bagian Pegunungan Sudirman pada tahun 2024 menyusut 0,11-0,16 kilometer persegi dari sebelumnya 0,23 kilometer persegi pada 2022. Hal ini menjadi sinyal buruk bagi Indonesia karena tidak lama lagi salju di Pegunungan Jayawijaya, yang dulu dianggap abadi itu, akan segera punah.
"Sesuai studi kami sebelumnya, gletser di Puncak Jaya, Papua ini berpotensi hilang sebelum 2026," kata dia.
Hilangnya gletser atau lapisan es di Puncak Jaya ini merupakan kehilangan besar bagi Indonesia. Es di Puncak Jaya merupakan keajaiban alam karena lokasi es di wilayah khatulistiwa, pada garis lintang selatan, yaitu hanya 4 derajat. Wilayah ini biasanya dicirikan oleh hutan hujan tropis yang rimbun dengan suhu rata-rata di permukaan tanah hampir konstan 28 derajat celcius.
Tingginya gunung ini membuat suhu di puncak cukup dingin, sehingga tidak hanya memungkinkan terjadinya hujan salju, tetapi juga gletser untuk tumbuh dan berkembang. Suhu udara diketahui akan turun sebesar 0,65 - 1 derajat celcius untuk setiap ketinggian 100 meter.
Dengan ketinggian 4.884 meter dari permukaan laut, suhu di Puncak Jaya bisa di bawah titik beku. Selama ribuan tahun, akhirnya terbentuk lapisan es, setidaknya hingga saat ini. Namun, menurut analisis tim BMKG, tahun 2026 kemungkinan bakal jadi tahun terakhir bagi keberadaan es di Puncak Jaya.





