Menakar Kekuatan Tempur Riil dan Kemandirian Pertahanan RI

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Lanskap kekuatan militer global pada 2026 masih memperlihatkan dominasi Amerika Serikat, tetapi dengan jarak yang kian menyempit dibandingkan dengan Rusia dan China yang masing-masing berada di peringkat kedua dan ketiga.

Data Global Fire Power (GFP) 2026 menunjukkan, kompetisi di antara tiga kekuatan utama dunia berlangsung ketat, sementara sejumlah negara lain, termasuk Indonesia, memperlihatkan posisi yang diperhitungkan.

Amerika Serikat menempati peringkat pertama dari 145 negara dengan indeks kekuatan (power index/PwrIndx) sebesar 0,0741. Dalam metodologi GFP, semakin kecil nilai indeks menunjukkan kekuatan militer yang semakin unggul. Penilaian ini menggabungkan lebih dari 60 indikator, mulai dari jumlah personel, kekuatan udara, darat, laut, hingga kapasitas finansial.

Dominasi AS paling kentara pada kekuatan udara. Negeri itu memiliki total 13.032 pesawat militer, terbesar di dunia, dengan 1.791 pesawat tempur, seperti F-22, F-15, F-16, dan F/A-18. Armada helikopter mencapai 5.913 unit, termasuk lebih dari 1.000 helikopter serang. Supremasi udara ini menjadi tulang punggung proyeksi kekuatan global AS. Dari delapan jenis armada udara, militer AS menduduki peringat ke-1 dunia.

Dari sisi personel, militer AS diperkuat sekitar 2,1 juta personel, dengan 1,3 juta di antaranya merupakan personel aktif. Namun, dominasi tersebut ditopang oleh beban finansial yang sangat besar.

Tindakan melancarkan termasuk mempertahankan konflik yang berkepanjangan menyebabkan tekanan finasial yang besar. Anggaran pertahanan AS mencapai sekitar 831 miliar dolar AS, tertinggi di dunia.

Baca JugaKapal Induk USS Abraham Lincoln dan Pergeseran Doktrin Menyerang AS

Dengan memperhitungkan anggaran pertahanan tersebut dan daya beli berdasarkan paritas, serta nilai tukar mata uang asing dan emas, AS memiliki utang luar negeri sebesar 24 kuadriliun dolar AS. Secara global, AS menanggung beban utang terbesar atau berada di peringkat ke-145 atau yang terburuk.

Di bawah AS, Rusia dan China menempati posisi kedua dan ketiga dengan indeks masing-masing 0,0791 dan 0,0919. Selisih tipis ini menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan global semakin multipolar.

Rusia unggul pada kekuatan darat dan sebagian kekuatan laut. Negara ini memiliki artileri derek sebanyak 5.920 dan 3.603 artileri swagerak. Dua armada ini menduduki peringkat pertama dan terbesar di dunia. Selain itu, Rusia juga memiliki 5.630 tank, terbanyak kedua secara global.

Di laut, Rusia mengandalkan 66 kapal selam, jumlah terbanyak di dunia, serta armada korvet sebanyak 79 unit dan kapal penangkal ranjau sebanyak 45 unit. Tiga armada laut itu menempatkan Rusia di posisi pertama.

Seluruh kekuatan armada Rusia itu didukung sekitar 1,3 juta personel aktif dan 2 juta personel cadangan, atau terbayak keempat di dunia.

Sementara itu, China memperlihatkan akselerasi modernisasi militer yang konsisten. Dengan 2,03 juta personel aktif, terbanyak di dunia. China mengombinasikan kekuatan manusia dengan basis industrial yang kuat.

Di darat, kekuatan militer China memiliki 5.870 tank dan sebanyak 2.770 sistem peluncur roket (MLRS), keduanya peringkat pertama dunia. Kekuatan lautnya juga menonjol dengan total 841 aset, terbanyak secara global.

Dari delapan jenis kendaraan tempurnya, fregat (kapal perang kombatan berukuran sedang dan cepat) menjadi kekuatan penting China dengan jumlah 46 atau terbanyak di dunia. Hal ini menegaskan ambisi maritim Beijing.

Anggaran pertahanan China mencapai sekitar 303 miliar dolar AS, terbesar kedua setelah AS, mencerminkan investasi berkelanjutan untuk mengejar ketertinggalan teknologi dan proyeksi kekuatan.

Konflik timur tengah

Dalam konteks konflik Timur Tengah, peta kekuatan global ini beririsan dengan dinamika regional, terutama yang melibatkan Israel dan Iran.

Israel berada di peringkat ke-15 dunia dengan indeks 0,2707. Meski tidak masuk 10 besar, kekuatan militernya diperhitungkan, antara lain karena dukungan teknologi dan aliansi strategis dengan AS.  

Israel memiliki kekuatan udara yang relatif maju, dengan total 587 unit termasuk 239 pesawat tempur atau berada di peringkat ke-11 dunia. Militer Israel juga didukung oleh kekuatan darat dengan 1.300 tank (peringkat ke-17) dan kendaraan lapis baja sebanyak 62.380 unit (peringkat ke-13).

Di sisi lain, Iran menempati peringkat ke-16 dengan indeks 0,3199. Secara agregat, kekuatan militernya berada di bawah Israel, tetapi Iran memiliki keunggulan pada jumlah personel dan kekuatan darat.

Baca JugaKapal Induk Giuseppe Garibaldi Dihibahkan, Apa yang Harus Dibiayai Indonesia?

Total personel militernya mencapai 1,18 juta, didukung kapasitas artileri dan sistem roket yang besar. Peran Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang didirikan oleh Ayatollah Khomeini juga menjadi faktor penting dalam strategi asimetris Iran ke musuhnya.

Kekuatan darat militer Iran menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan. Negara ini memiliki tank sebanyak 2.675 unit (peringkat ke-8) dan kendaraan lapis baja sebanyak 75.939 unit (peringkat ke-11).

Selain itu yang membuat negara ini disegani adalah karena memiliki sebanyak 1.803 towed artillery atau alteri tarik (peringkat ke-7) dan sistem peluncur roket/MLRS (rocket artillery) sebanyak 1.550 (peringkat ke-4).

Meski anggaran pertahanan Iran jauh lebih kecil, sekitar 9,2 miliar dolar AS, kemampuan bertahan dan respons militernya menunjukkan efektivitas dalam konflik berintensitas terbatas.

Militer Indonesia

Di tengah peta kekuatan tersebut, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia menempati posisi ke-13 dunia dengan indeks 0,2582, sekaligus peringkat ke-7 di Asia. Di Asia, posisi Indonesia bahkan lebih baik dari Israel dan Iran yang masing-masing berada di posisi ke-9 dan ke-10.

Kekuatan Indonesia bertumpu pada jumlah personel yang mencapai sekitar 1,05 juta, termasuk lebih dari 400.000 personel aktif. Di laut, Indonesia memiliki 338 aset atau peringkat ke-5 dunia, yang mencerminkan karakter sebagai negara kepulauan. Armada ini mencakup 10 fregat (peringkat ke-9), 26 korvet (peringat ke-4), 211 kapal patrol (peringkat ke-4), dan empat kapal selam (peringkat ke-13).

Namun, dari sisi kekuatan udara dan darat, Indonesia masih menghadapi keterbatasan. Indonesia memiliki kekuatan udara sebanyak 460 unit (peringkat ke-24). Beberapa jenis armada udara itu di antaranya adalah 212 helikopter (peringkat ke-22), 41 pesawat tempur sebanyak (peringkat ke-39), 34 pesawat penyerang (peringkat ke-21).

Sementara itu, kekuatan darat, Indonesia memiliki 331 tank (peringkat ke-42), kendaraan lapis baja sebanyak 28.064 (peringkat ke-24), dan armada lainnya.

Kesiapan industri pertahanan

Di balik pemeringkatan kekuatan militer global seperti Global Fire Power (GFP), sejumlah analis menilai pendekatan berbasis angka semata tidak cukup untuk menggambarkan kapasitas riil suatu negara. Analis pertahanan Indonesia, Fauzan Malufti, menegaskan, ukuran kekuatan militer tidak bisa direduksi hanya pada jumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista).

”Dalam melihat kekuatan pertahanan atau kekuatan militer suatu negara perlu dilihat juga kualitas sumber daya manusia, doktrin, hingga kebijakan politiknya,” ujar Fauzan saat dihubungi, Sabtu (11/4/2026).

Dalam konteks Indonesia, pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar posisi peringkat global, melainkan sejauh mana kesiapan industri pertahanan nasional dalam menjawab tantangan zaman dan dinamika geopolitik.

Dalam beberapa dekade terakhir, industri pertahanan Indonesia dinilai menunjukkan kemajuan. Holding industri pertahanan Defend ID, misalnya, telah masuk dalam daftar 100 perusahaan pertahanan global versi Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) meski masih di posisi bawah.

”Secara revenue memang sudah masuk 100 besar, tetapi masih di kisaran peringkat 90-an. Itu menunjukkan ada kemajuan walaupun kapasitasnya masih terbatas,” tutur Fauzan.

Perkembangan positif terlihat di sektor maritim. Galangan kapal dalam negeri, termasuk swasta, semakin banyak menerima pesanan dari TNI, dengan ukuran dan tonase kapal yang kian besar. Namun, perlu diakui, untuk komponen kunci, seperti sistem persenjataan hingga sensor, masih harus impor.

Di sektor udara, kemajuan terlihat pada kemampuan perawatan dan perbaikan alutsista. PT Dirgantara Indonesia dan PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia kini semakin mampu melakukan maintenance, repair, and overhaul (MRO) untuk pesawat militer, termasuk Hercules. Kapasitas ini dinilai strategis karena mengurangi ketergantungan pada layanan luar negeri sekaligus meningkatkan efisiensi biaya.

Fauzan menilai, penguatan MRO justru bisa menjadi pilihan rasional ketimbang memaksakan produksi penuh pesawat tempur dalam negeri. Ia mencontohkan Singapura yang tidak memproduksi pesawat, tetapi mampu meraih pendapatan besar dari sektor perawatan dan jasa penerbangan.

Baca JugaModernisasi Alutsista dan Masa Depan Postur Pertahanan Indonesia

Ia menyoroti keterbatasan dalam skema alih teknologi (transfer of technology/ToT). Dalam banyak kasus, nilai pembelian alutsista Indonesia dinilai belum cukup besar untuk memperoleh transfer teknologi yang signifikan. Bahkan, jika teknologi berhasil diperoleh, tantangan berikutnya adalah memastikan keberlanjutan produksi dan kepastian pasar.

”Kalau kita sudah investasi mahal untuk ToT; pertanyaannya, apakah ada kepastian order? Tanpa itu, skala keekonomian tidak tercapai,” kata Fauzan.

Masalah lain yang mengemuka adalah inkonsistensi kebijakan. Sejumlah proyek prototipe alutsista kerap berhenti di tahap uji coba tanpa berlanjut ke produksi massal. Pergantian kepemimpinan dan prioritas anggaran disebut menjadi salah satu faktor yang menghambat kesinambungan program.

Dalam perkembangan teknologi militer global, Fauzan melihat peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan pendekatan yang lebih adaptif dan asimetris. Ia mencontohkan Iran yang tidak berusaha menyaingi kekuatan besar dalam platform konvensional, seperti pesawat tempur canggih, tetapi mengembangkan keunggulan pada drone dan sistem rudal.

Dari contoh Iran, menurut Fauzan, dengan mempertimbangkan karakter geografis sebagai negara kepulauan dan tren peperangan modern, penguatan seharusnya difokuskan pada domain udara, laut, dan siber.

Perkembangan konflik di Timur Tengah menunjukkan pergeseran pola perang yang tidak lagi bergantung pada invasi darat skala besar. Serangan rudal, drone, dan operasi jarak jauh menjadi instrumen utama dalam proyeksi kekuatan.

Sementara itu, pengamat pertahanan sekaligus konsultan senior Marapi Consulting & Advisory, Beni Sukadis, menilai pemeringkatan Global Firepower (GFP) lebih tepat diposisikan sebagai gambaran awal, bukan cerminan kapabilitas tempur yang sesungguhnya.

Aspek krusial, seperti kualitas sumber daya manusia, kohesi komando, kesiapan logistik, serta daya tahan operasi dalam konflik nyata, tidak sepenuhnya tecermin dalam pemeringkatan tersebut.

”Strategi pertahanan tidak cukup dibaca dari kuantitas di atas kertas, tetapi juga dari kemampuan bertahan, menyerang, dan memaksa lawan menghitung ulang kalkulasi perang,” ujar Beni.

Di luar angka, kekuatan riil Indonesia justru terletak pada kombinasi antara postur TNI dan daya dukung industri pertahanan nasional yang semakin terbentuk.

PT Dirgantara Indonesia, misalnya, mampu memproduksi pesawat untuk kebutuhan sipil dan militer, termasuk mengadaptasi konfigurasi untuk misi khusus. Di sektor maritim, PT PAL memiliki kapasitas desain dan konstruksi kapal perang, sementara PT Pindad memproduksi beragam sistem persenjataan, mulai dari senjata ringan hingga kendaraan tempur seperti medium tank Harimau.

”Ini menunjukkan Indonesia tidak mulai dari nol. Fondasi sudah ada, terutama untuk platform taktis, seperti pesawat angkut, kapal perang, kendaraan tempur, dan senjata ringan hingga menengah,” kata Beni.

Meski demikian, kemandirian penuh pada platform strategis, seperti pesawat tempur, masih menjadi pekerjaan rumah. Ketergantungan pada komponen kunci dan teknologi dari luar negeri membuat skema kerja sama internasional, termasuk transfer teknologi dan produksi bersama (co-production), tetap realistis dan menjadi kebutuhan.

Tantangan utama tidak berhenti pada pengadaan alutsista. Beni menekankan pentingnya membangun ekosistem industri pertahanan yang utuh, mencakup transfer teknologi yang efektif, pembiayaan yang berkelanjutan, skala produksi yang memadai, serta tata kelola yang disiplin dan konsisten.

Ke depan, arah pengembangan pertahanan Indonesia juga dinilai perlu beradaptasi dengan perubahan karakter peperangan modern. Kemampuan berbasis teknologi, seperti drone, peperangan siber, dan pertahanan ruang angkasa, menjadi semakin relevan, bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjawab kebutuhan operasional di medan tempur yang semakin berbasis sensor, jaringan, dan informasi.

”GFP sebaiknya diperlakukan sebagai statistik pendamping. Ukuran sesungguhnya adalah kesiapan tempur, kemandirian industri, dan daya tahan nasional,” ujar Beni.

Dengan demikian, pengembangan industri pertahanan nasional tidak hanya soal meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menyelaraskan strategi, teknologi, dan prioritas. Di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks, kekuatan militer tidak lagi sekadar soal jumlah, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan menentukan keunggulan secara tepat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pahlawan Tanpa Perang: Risiko Besar di Balik Misi Perdamaian Dunia
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Operasi Besar-besaran! Polisi Gerebek 3 Gudang BBM Ilegal, Rugikan Negara Ratusan Miliar
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Komnas HAM Ungkap Kasus Andrie Yunus Belum Masuk Pelanggaran Hak Aasasi Manusia Berat, Ini Alasannya
• 29 menit lalukompas.tv
thumb
Satu Angka yang Meleset dan Ketelitian yang Diuji
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Ini Jadinya Main Game RDR 2 di PC Kentang, 12 Jam Baru 1 Misi!
• 3 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.