Moms, perubahan cara pandang dalam mengasuh anak neurodivergen kini mulai mendapat perhatian, seiring meningkatnya kebutuhan pendidikan inklusif di Indonesia. Pendekatan ini mengedepankan pemahaman terhadap anak, bukan sekadar upaya “memperbaiki”, seperti yang disampaikan dalam diskusi yang digelar Atelier of Minds di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Pendekatan tersebut muncul di tengah kesenjangan dukungan bagi anak berkebutuhan khusus. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 2021 mencatat sekitar 2,4 juta individu dengan autisme di Indonesia, dengan penambahan sekitar 500 kasus baru setiap tahun.
Sementara itu, riset 2024 di Surabaya menunjukkan 15,1 persen siswa SD berisiko mengalami gejala ADHD. Di sisi lain, hingga Desember 2023, hanya 14,83 persen sekolah memiliki Guru Pembimbing Khusus (GPK).
Melihat kondisi itu, pendekatan parenting berbasis empati dinilai semakin relevan. Jeremy Ang menekankan pentingnya perubahan mindset orang tua dalam memahami anak neurodivergen.
“Neurodiversitas adalah perbedaan, bukan kekurangan. Ketika kita mengubah cara pandang dari ‘memperbaiki anak’ menjadi ‘memahami anak’, kita membuka potensi terbaik mereka,” ungkap Jeremy.
Ia menambahkan, anak akan berkembang optimal ketika lingkungan disesuaikan dengan cara kerja otaknya, bukan sebaliknya. Menurutnya, salah satu kesalahpahaman yang masih sering terjadi adalah anggapan bahwa anak harus diperbaiki.
“Satu hal yang saya sering dengar dari orang tua adalah, ‘saya perlu memperbaikinya’. Tapi apa yang sebenarnya perlu diperbaiki? Kita hanya memperbaiki sesuatu yang kita anggap sebagai masalah,” katanya.
“Pengalaman anak-anak kita bukan masalah. Ini adalah cara mereka berkomunikasi dengan kita. Jadi bukan memperbaiki anaknya, tetapi bagaimana kita memperbaiki cara kita berkomunikasi dan terhubung dengan mereka,” lanjutnya.
Senada, Ries Sansani menilai banyak orang tua masih memiliki ekspektasi instan dalam proses tumbuh kembang anak.
“Banyak orang tua merasa harus memilih antara dukungan akademik atau perkembangan anak. Di Atelier, orang tua tidak perlu memilih tersebut. Anak didukung secara menyeluruh, melalui struktur, permainan, dan interaksi bermakna,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa konsep “sembuh” kerap disalahartikan. Menurutnya, komunikasi anak tidak selalu harus verbal.
“Pendekatan yang lebih realistis adalah membantu anak menemukan cara berkomunikasi yang sesuai dengan kemampuannya, seperti melalui visual atau gambar,” jelas Ries.
Pengalaman serupa disampaikan Wina Natalia yang membagikan perjalanan sebagai orang tua anak neurodivergen.
“Memiliki anak neurodivergent mengubah seluruh perjalanan sebagai orang tua. Yang dibutuhkan keluarga bukan hanya terapi atau sekolah, tetapi ruang aman di mana anak dipahami dan diterima,” ujar Wina.
“Memang butuh waktu. Tidak bisa langsung. Sekitar dua tahun sampai akhirnya saya dan keluarga benar-benar memahami anak,” lanjutnya.
Dalam praktik sehari-hari, memahami perilaku anak menjadi kunci. Perilaku yang kerap dianggap sebagai ketidakpatuhan sering kali merupakan respons terhadap kebutuhan sensorik atau kondisi lingkungan.
Jeremy menekankan pentingnya jeda sebelum bereaksi. “Langkah pertama adalah mengubah cara berpikir. Jangan langsung melihatnya sebagai masalah. Ambil langkah mundur, amati, dan pahami bagaimana anak mencoba berkomunikasi,” tukasnya.
Selain itu, konsistensi dan rutinitas disebut penting untuk menciptakan rasa aman bagi anak. Pendekatan ini juga berperan dalam membangun resiliensi, yang menurut Jeremy merupakan keterampilan yang berkembang melalui proses.
“Resiliensi adalah keterampilan. Kita belajar menjadi tangguh melalui proses. Otak kita berkembang melalui pengalaman, ini yang disebut neuroplasticity,” ujarnya.





