Oleh : Ustaz Fahmi Salim, Direktur Al Fahmu Institute
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konflik di Timur Tengah terlalu sering dibaca sebagai soal batas wilayah, minyak, dan rivalitas negara. Padahal, cara pandang itu justru menyesatkan.
Ia menipu kita untuk percaya bahwa perang bisa diselesaikan di meja perundingan, seolah yang diperebutkan hanya garis di peta. Kenyataannya, yang sedang dipertarungkan jauh lebih dalam: siapa yang berhak mendefinisikan sejarah, menentukan makna tanah suci, dan mengklaim legitimasi atas nama Tuhan. Di titik ini, geopolitik tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan teologi.
Baca Juga
Studi: Minum Kopi dalam Jumlah Sedang Bantu Turunkan Risiko Depresi
Investasi Emas Rp50 Ribu, Strategi BSI Gaet Generasi Muda
Masuk 20 Hotel Terbaik Indonesia, The Meru Sanur Angkat Standar Baru Hospitality
Apa yang tampak sebagai operasi militer modern, dengan drone, rudal presisi, dan kalkulasi strategis, sebenarnya berjalan berdampingan dengan “teks kuno” yang terus dihidupkan.
Ada dua medan perang yang berlangsung simultan: satu di ruang komando militer, satu lagi di ruang tafsir kitab suci. Yang pertama menentukan bagaimana perang dijalankan, tetapi yang kedua menentukan mengapa perang itu harus terus berlangsung. Ketika narasi suci masuk ke dalam logika perang, konflik tidak lagi tunduk pada rasionalitas politik, melainkan pada keyakinan yang absolut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Di sinilah letak problem utamanya: perang di Timur Tengah telah berubah dari konflik kepentingan menjadi konflik makna. Ia bukan lagi sekadar perebutan wilayah, tetapi perebutan “hak ilahi” atas wilayah itu sendiri.
Dalam situasi seperti ini, kompromi menjadi hampir mustahil, karena yang dinegosiasikan bukan sekadar kepentingan, melainkan iman. Dan ketika iman dijadikan dasar perang, maka kekerasan tidak lagi dianggap sebagai pilihan terakhir, melainkan sebagai kewajiban yang harus ditunaikan.
Titik balik penting dapat ditelusuri pada pasca Perang Enam Hari 1967. Kemenangan militer Israel bukan hanya mengubah peta geopolitik, tetapi juga memicu transformasi ideologis. Zionisme yang semula banyak berakar pada nasionalisme sekuler mulai bergeser ke arah religius.
Wilayah yang diduduki tidak lagi sekadar dipandang sebagai aset strategis, tetapi sebagai bagian dari janji ilahi. Sejak saat itu, konflik kehilangan sebagian besar ruang rasionalnya. Ia bergerak dari ranah negosiasi menuju ranah keyakinan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.