Siak: Polres Siak mengusut kematian seorang siswa Sekolah Menangah Pertama (SMP) akibat ledakan senapan rakitan. Dinas Pendidikan Kabupaten Siak juga mendukung proses hukum untuk mengungkap penyebab peristiwa ini, termasuk dugaan kelalaian pihak sekolah.
"Terkait hal ini masih dalam proses penyelidikan dari pihak kepolisian, nanti kita liat sama-sama, apakah ada kelalaian atau tidak," kata Kadis Pendidikan Siak Romy Lesmana di Siak, Sabtu, 11 April 2026.
Dia mengatakan tidak ada materi kekerasan dalam kurikulum pendidikan sains di SMP Tahfiz Islamic Center. "Secara umum kemarin sudah melihat sekilas itu tidak ada kurikulum yang mengajarkan bom atau membuat senjata, dan radikalisme," ujarnya.
Baca Juga :
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di SMP Sains Tahfiz Islamic Center pasca-ledakan senapan rakitan tersebut. Barang bukti berupa potongan besi, kayu, bubuk hitam, plastik dan puluhan gotri atau butiran logam dikumpulkan untuk dikirim ke Laboratorium Forensik Polda Riau.
Polres Siak juga memeriksa sejumlah saksi, di antaranya guru dan siswa yang berada di lokasi saat terjadinya ledakan senapan rakitan.
Sebelumnya, seorang siswa SMP tewas akibat ledakan senapan rakitan dalam praktik sains di Kabupaten Siak, Riau, Kamis, 9 April 2026. Korban mengalami luka berat di bagian wajah akibat pecahan logam dan kayu.
"Pada korban menyebabkan luka yang sangat serius di wajah," kata Kepala Bidang Humas Polda Riau Kombes Zahwani Pandra Arsyad di Siak, dikutip Minggu, 12 April 2026.
Sekolah Menengah Pertama Islamic Center Siak merupakan tempat kegiatan pendidikan siswa berinisial MA (15) yang meninggal dunia akibat ledakan senapan rakitan hasil karyanya dalam mengikuti praktik laboratorium sains di sekolah tersebut. ANTARA/Bayu Agust
Kasus ini bermula ketika siswa SMP Tahfiz Islamic Center, Kabupaten Siak melakukan praktik sains menggunakan senapan rakitan 3 dimensi. Seorang siswa bernama Muhammad Aqil Arizal memperagakan tembakan di depan teman-temannya.
Namun, senapan rakitan yang dipegang Arizal meledak dan melukai kepala siswa kelas 9 ini. Korban seketika tumbang dengan wajah berlumur darah.
Arizal sempat dilarikan ke RSUD Tengku Rafian Siak dan ditangani tenaga medis. Namun, nyawanya tidak tertolong.
Saat kejadian, siswa hanya didampingi oleh guru pengganti, bukan guru bidang sains yang biasanya mengawasi praktik ilmiah tersebut.




