Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Hormuz Terbuka, Tiga Supertanker Lolos Blokade Iran Bawa 6 Juta Barel Minyak
Di tengah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, sebuah celah sempit di Selat Hormuz akhirnya terbuka.
Data pelayaran terbaru mengungkap pergerakan krusial: tiga kapal tanker raksasa (VLCC) bermuatan penuh minyak mentah berhasil keluar dari jalur perairan paling berbahaya di dunia tersebut pada Sabtu 11 April 2026.
Hal Ini menjadi sinyal penting di tengah krisis energi global yang dipicu oleh blokade Iran sejak akhir Februari lalu. Berikut adalah detail dari pergerakan logistik yang menentukan arah harga minyak dunia ini
Eksodus Emas Hitam di Jalur Terlarang
Tiga supertanker, yakni Serifos (berbendera Liberia) serta Cospearl Lake dan He Rong Hai (keduanya berbendera China), terpantau meninggalkan titik jangkar percobaan Hormuz.
Kapal-kapal ini membawa muatan masif, di mana masing-masing kapal mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak.
Keluarnya kapal-kapal ini merupakan buah dari diplomasi di balik layar. Serifos, yang disewa oleh perusahaan energi Thailand, PTT, dikabarkan merupakan satu dari tujuh kapal yang aksesnya diperjuangkan secara khusus oleh Malaysia melalui koordinasi dengan pihak Iran.
Logistik Global yang Tercekik Konflik
Sejak pecahnya perang pada Februari, Selat Hormuz menjadi titik nadir pasokan energi. Sebagai jalur bagi 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia, blokade di wilayah ini telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar internasional.
• Rute China: Cospearl Lake yang membawa minyak Irak dijadwalkan tiba di Pelabuhan Zhoushan, China, pada 1 Mei mendatang. Kapal ini berada di bawah kendali Unipec, lengan dagang raksasa energi Sinopec.
• Rute Malaysia: Serifos yang memuat minyak dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab diprediksi akan bersandar di Pelabuhan Malaka pada 21 April.
"Ratusan kapal tanker masih terjebak di Teluk, berpacu dengan waktu dalam periode gencatan senjata dua minggu yang sangat tidak stabil ini."
Meskipun tiga kapal telah berhasil keluar, arus masuk ke wilayah Teluk tetap berlanjut dengan risiko tinggi. Pada hari Minggu, tiga kapal kosong Mombasa B, Agios Fanourios I, dan Shalamar terdeteksi mulai memasuki selat untuk memuat minyak di Irak.
Ketegangan tetap terasa nyata. Hingga saat ini, otoritas energi dari Malaysia (Petronas) maupun raksasa China (Sinopec) masih enggan memberikan komentar resmi terkait operasional di zona merah ini.
Gencatan senjata yang ada saat ini ibarat "berjalan di atas kulit telur"; setiap pergerakan kapal tanker bukan sekadar urusan logistik, melainkan pertaruhan geopolitik yang menentukan nasib ekonomi global.
Editor: Redaksi TVRINews





