Sebuah video seorang ibu dengan anak viral di media sosial. Dalam video itu, seorang ibu tampak terkejut sekaligus bahagia saat mengetahui anaknya lolos SNBP. Namun di balik senyum harunya, ia juga spontan melontarkan satu kalimat dengan bahasa sunda yang artinya, “Bayarnya gimana ya?”
Dialah Ibu Santi, seorang ibu rumah tangga yang kini kisahnya menyentuh banyak orang. Kepada kumparanMOM, Ibu Santi menceritakan momen saat anak perempuannya diterima di ISBI Bandung jurusan Seni Tari. Perasaan yang ia rasakan saat itu begitu campur aduk.
“Alhamdulillah anak saya keterima di ISBI Bandung Jurusan Seni Tari. Yang terlintas di pikiran saya, ya seperti di video, rasa bahagia, bingung, campur menjadi satu,” ucapnya saat dihubungi kumparanMOM, Selasa (7/4).
Perjuangan Menari dari Panggung ke PanggungKeberhasilan itu tentu bukan datang tiba-tiba. Sejak kecil, putrinya yang bernama Arrifa itu sudah menekuni dunia tari, khususnya tari jaipong. Berbagai lomba dan event telah diikuti, termasuk ajang nasional Galuh Pakuan Cup di Subang.
“Yang mungkin terakhir kita mengikuti galuh pakuan cup seri mulai dari 1 sampai seri 9. Yang diadakan di Subang, Jawa Barat tingkat nasional. Alhamdulillah yang seri 9 dapat juara harapan 1 dan juga dapat piagam koreografer,” cerita ibu Santi.
Bagi Ibu Santi, setiap langkah anaknya di panggung adalah bagian dari perjalanan panjang yang akhirnya mengantarkan pada kesempatan besar ini
Di Balik Kebahagiaan, Ada KekhawatiranMeski penuh rasa syukur, Ibu Santi tidak menampik bahwa kekhawatiran soal biaya langsung menghampiri saat tahu buah hatinya diterima kuliah.
“Untuk biaya yang saya khawatirkan, mungkin semua ya. Dari mulai biaya semester, biaya kos, biaya kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Kondisi ekonomi keluarga memang tidak selalu mudah. Ibu Santi adalah ibu rumah tangga, sementara suaminya bekerja sebagai buruh mebel dengan penghasilan yang tidak menentu. Di sisi lain, ia juga memiliki anak kedua yang berusia 6 tahun dan akan mulai sekolah tahun ini.
Meski belum memiliki gambaran pasti soal pembiayaan, Ibu Santi sudah berusaha mencari jalan. Salah satunya dengan mengajukan KIP Kuliah, meski hingga kini masih menunggu hasilnya. Di tengah keterbatasan, komunikasi dengan anak menjadi kekuatan tersendiri.
“Anak saya tahu. Anak saya tahu bahwa saya sedang meminggirkan biaya untuk kuliahnya. Karena kita selalu diskusi masalah apapun itu kak,” tutur Ibu Santi.
Bagi Ibu Santi, yang membuatnya tetap kuat adalah satu harapan melihat anak-anaknya sukses. Di akhir ceritanya, ia juga menyampaikan pesan yang menyentuh untuk para orang tua di luar sana, terutama yang mungkin berada dalam kondisi serupa.
“Jangan pernah mematahkan semangat anak. Selalu mendukung potensi anak. Selalu berusaha yang terbaik buat anak,” pesannya.
Dari kisah Ibu Santi, bisa jadi pengingat bahwa di balik setiap mimpi anak, ada perjuangan orang tua yang sering kali tidak terlihat. Bahkan kadang, di antara rasa bahagia itu, terselip doa dan harapan yang terus diperjuangkan.





