Jakarta (ANTARA) - Pengamat Hubungan Internasional Andrea Abdul Rahman Azzqy menilai peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran akan terbuka apabila Teheran memperoleh jaminan atas keamanan dan kedaulatannya.
Pernyataan tersebut disampaikan Andrea saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu, menyusul kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
"Jadi, titik tengahnya dicapai, ya, kalau Iran mendapatkan jaminan keamanan dan kedaulatan," katanya.
Menurut Andrea, kegagalan perundingan yang berlangsung sejak Sabtu malam (11/4) di Islamabad mencerminkan masih dalamnya jurang kepentingan antara Washington dan Teheran.
"Jadi, ini bukan sekadar soal teknisnya, jadi melainkan refleksi dari ketidakmampuan kedua pihak untuk keluar dari logika zero sum deal," ucapnya.
Baca juga: Negosiasi AS-Iran belum capai kesepakatan, Selat Hormuz jadi sorotan
Terkait isu Selat Hormuz, yang menjadi salah satu poin krusial dalam perundingan, Andrea menyebut Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis di jalur tersebut.
Oleh karena itu, lanjut dia, Washington seharusnya memberikan jaminan terhadap keterbukaan jalur perdagangan sesuai dengan ketentuan hukum internasional.
Dia menambahkan solusi yang realistis dapat ditempuh melalui mekanisme pengawasan bersama di bawah kerangka internasional, bukan melalui dominasi sepihak.
"Solusi realistisnya adalah joint monitoring dengan payung internasional. Jadi, bukan dominasi sepihak. Amerika ingin dominasi. Mereka dengan sengaja kasih statement melalui Presiden Trump bahwa mereka yang berhak menarik tarif. Ini kan hal yang benar-benar melanggar prinsip kedaulatan dan logika," tambahnya.
Baca juga: Negosiasi AS-Iran buntu, tawaran final Washington ditolak Teheran
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran menyampaikan bahwa Iran dan Amerika Serikat telah mencapai kesepahaman mengenai sejumlah isu, tetapi tidak sepakat pada dua hingga tiga isu penting; sehingga pembicaraan di Islamabad berlangsung gagal.
"Kami mencapai kesepahaman mengenai sejumlah isu, tetapi pandangan kami berbeda pada dua atau tiga isu penting, sehingga pada akhirnya pembicaraan gagal menghasilkan kesepakatan," Juru Bicara Kemlu Iran Esmail Baghaei, Minggu, seperti dikutip oleh Kantor Berita Mehr.
Iran dan AS melakukan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4), setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah sepakat dengan Iran untuk gencatan senjata selama dua pekan.
Minggu pagi, Wakil Presiden J.D. Vance, selaku ketua delegasi AS dalam pembicaraan tersebut, mengumumkan bahwa Iran dan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan selama negosiasi yang panjang. Delegasi AS pun kembali ke negara mereka dengan tangan kosong.
Baca juga: AS dan Iran belum sepakat soal Selat Hormuz
Pernyataan tersebut disampaikan Andrea saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu, menyusul kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
"Jadi, titik tengahnya dicapai, ya, kalau Iran mendapatkan jaminan keamanan dan kedaulatan," katanya.
Menurut Andrea, kegagalan perundingan yang berlangsung sejak Sabtu malam (11/4) di Islamabad mencerminkan masih dalamnya jurang kepentingan antara Washington dan Teheran.
"Jadi, ini bukan sekadar soal teknisnya, jadi melainkan refleksi dari ketidakmampuan kedua pihak untuk keluar dari logika zero sum deal," ucapnya.
Baca juga: Negosiasi AS-Iran belum capai kesepakatan, Selat Hormuz jadi sorotan
Terkait isu Selat Hormuz, yang menjadi salah satu poin krusial dalam perundingan, Andrea menyebut Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis di jalur tersebut.
Oleh karena itu, lanjut dia, Washington seharusnya memberikan jaminan terhadap keterbukaan jalur perdagangan sesuai dengan ketentuan hukum internasional.
Dia menambahkan solusi yang realistis dapat ditempuh melalui mekanisme pengawasan bersama di bawah kerangka internasional, bukan melalui dominasi sepihak.
"Solusi realistisnya adalah joint monitoring dengan payung internasional. Jadi, bukan dominasi sepihak. Amerika ingin dominasi. Mereka dengan sengaja kasih statement melalui Presiden Trump bahwa mereka yang berhak menarik tarif. Ini kan hal yang benar-benar melanggar prinsip kedaulatan dan logika," tambahnya.
Baca juga: Negosiasi AS-Iran buntu, tawaran final Washington ditolak Teheran
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran menyampaikan bahwa Iran dan Amerika Serikat telah mencapai kesepahaman mengenai sejumlah isu, tetapi tidak sepakat pada dua hingga tiga isu penting; sehingga pembicaraan di Islamabad berlangsung gagal.
"Kami mencapai kesepahaman mengenai sejumlah isu, tetapi pandangan kami berbeda pada dua atau tiga isu penting, sehingga pada akhirnya pembicaraan gagal menghasilkan kesepakatan," Juru Bicara Kemlu Iran Esmail Baghaei, Minggu, seperti dikutip oleh Kantor Berita Mehr.
Iran dan AS melakukan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4), setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah sepakat dengan Iran untuk gencatan senjata selama dua pekan.
Minggu pagi, Wakil Presiden J.D. Vance, selaku ketua delegasi AS dalam pembicaraan tersebut, mengumumkan bahwa Iran dan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan selama negosiasi yang panjang. Delegasi AS pun kembali ke negara mereka dengan tangan kosong.
Baca juga: AS dan Iran belum sepakat soal Selat Hormuz





