jpnn.com - JAKARTA - Pengamat politik Jamiluddin Ritonga menyebut pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya soal inflasi pengamat bisa saja memang benar tejadi di Indonesia.
"Sinyalemen tersebut tentu ada benarnya, bila hanya mengacu pada latar belakang keahliannya," katanya pada Minggu (12/4).
BACA JUGA: Seskab Teddy Soroti Fenomena Inflasi Pengamat, Ajak Publik Bicara Berbasis Data
Menurut Jamiluddin, belakangan ini muncul pengamat yang berbicara terhadap suatu isu di luar latar belakang pendidikan.
"Sebab, ada pengamat yang menyampaikan opininya mengenai bidang tertentu yang tidak sesuai dengan latar belakang keahliannya atau pendidikannya," katanya.
BACA JUGA: Analis Politik Anggap Komunikasi Istana Membaik, Singgung Peran Seskab
Namun, kata Jamiluddin, keahlian seseorang mengenai bidang tertentu tidak hanya berdasarkan pendidikan.
Menurutnya, bisa saja seseorang berlatar belakang pendidikan teknik sipil, tetapi lebih banyak bekerja di partai politik, sehingga memahami seluk-beluk politik.
BACA JUGA: Daftar Menteri yang Layak Dicopot Versi Jamiluddin Ritonga
Jamiluddin menganggap orang itu berhak berbicara terkait isu politik. Termasuk, wartawan yang setiap hari meliput kebijakan negara.
"Begitu juga seorang wartawan yang berlatar belakang pertanian, tetapi ditempatkan di desk politik, karena pengalamannya di desk politik, maka ia akhirnya memahami dengan baik seluk beluk politik," ujarnya.
Jamiluddin menuturkan sudah umum melihat seseorang berbicara di luar latar belakang pendidikan.
Toh, kata dia, pejabat di pemerintahan era Prabowo juga ditempatkan di sektor yang bukan menjadi latar belakang keahlian.
"Latar belakang pendidikan bukan menjadi keahlian profesionalnya. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, tidak memiliki keahlian atau pendidikan di bidang energi. Hal yang sama juga mungkin terjadi pada beberapa menteri lainnya," ujar Jamiluddin.
Pengamat dari Universitas Esa Unggul itu menuturkan pengalaman seseorang di bidang tertentu memungkinkan figur berbicara hal yang digeluti.
Menurut Jamiluddin, saat ini yang diperlukan sebenarnya bukan soal banyak atau tidak pengamat, melainkan figur berbicara dengan integritas.
"Jadi, soal integritas menjadi penting bagi pengamat. Sebab, pengamat harus mengedepankan kejujuran, objektif, dan tidak memihak," katanya. (ast/jpnn)
Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Aristo Setiawan




