Ukraina dan Rusia saling menuding telah melanggar gencatan senjata Paskah ribuan kali, menandakan rapuhnya upaya meredakan perang yang kini memasuki tahun kelima.
Meski sepakat menghentikan pertempuran selama momen keagamaan Paskah Ortodoks, serangan tetap terjadi di sepanjang garis depan.
Staf Umum militer Ukraina menyatakan hingga Minggu (12/4) pagi, tercatat 2.299 pelanggaran gencatan senjata oleh Rusia, termasuk ratusan serangan artileri dan ribuan serangan drone.
"Per 12 April pukul 07.00, tercatat 2.299 pelanggaran gencatan senjata. Secara rinci: 28 serangan darat, 479 penembakan, 747 serangan drone tempur, dan 1.045 serangan drone FPV," demikian pernyataan militer Ukraina, seperti dilansir Reuters.
Di sisi lain, AFP melaporkan Kementerian Pertahanan Rusia juga menuduh Ukraina melakukan 1.971 pelanggaran dalam periode yang sama.
"Sebanyak 1.971 pelanggaran gencatan senjata oleh unit angkatan bersenjata Ukraina telah tercatat," kata kementerian tersebut.
Moskow mengklaim Kyiv menembakkan artileri dan tank ratusan kali, melancarkan lebih dari 1.300 serangan drone FPV, serta menjatuhkan berbagai jenis amunisi melalui drone.
Meski demikian, Ukraina mencatat tidak ada serangan jarak jauh seperti drone Shahed, bom udara berpemandu, maupun rudal selama periode gencatan senjata yang menandakan adanya penurunan intensitas konflik.
Di wilayah Kharkiv, seorang perwira Ukraina menyebut situasi relatif lebih tenang, meski gencatan senjata tidak sepenuhnya dipatuhi.
"Rekan-rekan kami punya kesempatan untuk memberkati keranjang Paskah mereka dan merasakan kehangatan serta kebahagiaan hari raya ini," ujar Letnan Kolonel Vasyl Kobziak.
Gencatan senjata ini diumumkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk berlangsung selama 32 jam, dari Sabtu (11/4) sore hingga Minggu malam, menyusul usulan penghentian sementara pertempuran dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Namun seperti tahun sebelumnya, kesepakatan ini kembali diwarnai saling tuding pelanggaran di kedua pihak.
Perang yang dimulai sejak invasi Rusia pada Februari 2022 itu telah menewaskan ratusan ribu orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi, menjadikannya konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.





