DI balik padatnya permukiman di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung, tersimpan kekhawatiran mendalam yang menghantui warga. Warga yang tinggal di bantaran sungai melihat hujan bukan lagi sekadar berkah. Hujan telah menjadi alarm bahaya yang sewaktu-waktu bisa melenyapkan tempat tinggal mereka terseret arus sungai.
Baca juga: Normalisasi Sungai Ciliwung Kurang 16 Kilometer, Butuh Rp 1,2 Triliun
Tragedi longsor terjadi pada 6 Maret 2026 lalu di Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Sebanyak tujuh bangunan rumah amblas seketika akibat tanah longsor di tepian Sungai Ciliwung.
Meski tidak ada korban jiwa, peristiwa ini menjadi pengingat keras betapa rapuhnya fondasi kehidupan di pinggiran sungai purba yang melintasi Jawa Barat hingga Jakarta ini.
Kesaksian Warga: "Bunyi Kretek-Kretek, Lalu Berdebum"Ningsih, salah satu warga yang rumahnya tepat berada di titik longsor, menceritakan detik-detik mencekam saat tanah bantaran Ciliwung di bawah bangunan mulai bergerak.
"Awalnya bunyi kretek-kretek (rapuh), terus langsung suara berdebum (roboh). Ada getaran juga, sampai kami tidak berani keluar karena debu yang pekat," ujarnya.
Keluarga pemilik bangunan bernama Istiqomah menyebut tanda-tanda ancaman longsor sudah dirasakan sejak akhir tahun 2025. Bangunan yang sudah berdiri sejak tahun 1980-an itu persis ada di tebing bantaran Sungai Ciliwung.
Baca juga: Pramono: Cuaca Ekstrem Jadi Ujian Normalisasi Sungai Ciliwung, Krukut, dan Cakung
Saat itu beberapa sisi tembok sudah retak-retak. Pada 23 Februari 2026, satu kamar bangunan milik orangtuanya itu tiba-tiba amblas dan memisahkan diri dari bangunan utama.
Petaka kemudian kembali muncul pada awal Maret saat bangunan milik keluarga Istiqomah yang terdiri dari 15 petak kontrakan amblas karena bantaran Sungai Ciliwung longsor.
“Yang longsor kontrakan sepetak-sepetak, ada 15 kamar tiga lantai, untungnya pas kejadian sudah dikosongkan. Tapi ya ini habis semua, barang-barang ada yang tertinggal dan tidak bisa diselamatkan," tambahnya sambil menunjukkan sisa perabotan di antara puing-puing bangunan.
Istiqomah menyebut bahwa longsor kali ini adalah yang paling parah dibandingkan kejadian serupa pada 22 tahun silam.
“2004 itu udah pernah longsor, cuma longsornya itu enggak separah ini. Ini sih yang paling parah, ini habis semua,” tegasnya.
Istiqomah berharap adanya pemasangan turap permanen agar tak terjadi longsor susulan.
"Solusi dari pemerintah katanya cuma bisa pasang kayu dolken. Kalau kita kan mintanya ya kalau bisa diturap pakai beton supaya lebih kuat," harapnya.
Meski ancaman longsor susulan nyata di depan mata, banyak warga yang enggan pindah. Di RW 10 Kebon Baru saja, tercatat ada sedikitnya 75 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di zona rawan longsor.
Baca juga: Normalisasi Sungai Ciliwung 16 Kilometer Dimulai 2027
Dewi, warga yang rumahnya kini dalam kondisi miring ke arah sungai, mengaku sudah tinggal di bantaran Sungai Ciliwung selama lebih dari 30 tahun.





